in

Gerobak Sedekah Ini Sediakan Makanan Gratis Setiap Hari

SEMARANG (jatengtoday.com) – Sebuah etalase setinggi 2 meter dengan lebar 1 meter terpampang di pojok halaman Masjid Darusy Syukur, Ngaliyan, Kota Semarang. Di dalamnya selalu terisi nasi bungkus, dibiarkan tanpa penjagaan dan kacanya juga tak pernah dikunci.

Takmir Masjid, Wahyono mengungkapkan, etalase tersebut merupakan pemberian dari seorang dermawan. Di etalase tertulis “Gerobak Sedekah Gratis” dengan tagline “Siapa pun Boleh Menikmati, Siapa pun Boleh Mengisi. Makanan Halal, Fresh, dan Higienis”.

Menurut Wahyono, Gerobak Sedekah itu sudah ada sejak hampir satu bulan yang lalu. Setiap hari, katanya, pasti ada yang mengisinya dengan nasi bungkus atau makanan ringan lainnya, yang bisa dinikmati secara cuma-cuma.

“Diisi terus. Kalau nggak pagi ya sore. Kalau nggak ya siang. Nggak sampai kosong pokoknya. Apalagi kalau hari Jumat, banyak banget, sampai nggak muat. Biasanya ada yang ditaruh di luar, di atas meja-meja,” ujarnya, Selasa (19/3/2019).

Saat ditanya tentang identitas dermawan yang memberi, Wahyono enggan menyebutkan. Entah karena sengaja atau memang tidak hapal namanya. “Ya ini dari orang,” celetuknya.

Sampai akhirnya tidak lama kemudian datang dua orang dengan mengenakan mantel, membawa kantong plastik berisi nasi bungkus. Mereka adalah Joko Yudo dan Amel Almaida, sepasang suami istri warga Perum Wisma Sari, Kelurahan Ngaliyan.

Menurut penjelasan Yudo, Gerobak Sedekah Gratis tersebut merupakan sumbangan dari relawan yang tergabung dalam Remen Sedekah Community. Total anggota komunitas tersebut ada 21 orang, termasuk dirinya dan istri yang merupakan penggagas dari gerakan itu.

“Sebenarnya kami bersama teman-teman sudah lama berkecimpung di sedekah, tetapi gerobak ini baru jalan satu bulanan,” jelasnya.

Dalam sehari komunitasnya menyetok minimal 30 nasi bungkus. “Itu yang dari pengurus. Biasanya juga ada yang dari luar. Tetangga masjid juga pada ikut ngisi. Karena konsepnya kan siapa pun boleh mengisi, siapa pun boleh mengambil,” beber Yudo.

Saat ditanya apakah tidak merasa rugi, dirinya langsung menyela, “Kami ini justru bersyukur masih bisa memberi.”

Dirinya mengaku senang karena saat ini sudah semakin banyak relawan yang ingin turut menyumbang. Kadang, ada orang yang tergerak hatinya hanya karena melihat postingannya di akun media sosial. Bahkan, katanya, ada orang yang dari luar pulau Jawa, ingin turut menyedekahkan sebagian rezekinya.

Amel Almaida, istrinya menambahkan, gerobak sedekah yang mereka sediakan ini terinspirasi dari gerakan sedekah yang sudah digagas oleh komunitas-komunitas lain. Apalagi, kata Amel, dirinya sudah terbiasa melakukan kegiatan serupa sejak ia masih sekolah relawan di Jakarta.

“Kami itu intinya ingin membantu sesama. Kadang-kadang orang nggaya mengenakan baju bagus, kendarannya mewah, tapi ternyata sedang kesusahan, karena memang sudah berhari-hari sudah kerja tapi belum digaji. Gitu ya ada,” ceritanya.

Saat ini, kata Amel, sudah ada beberapa gerobak sedekah yang ditempatkan di berbagai tempat. “Kami pertama kali buka di dekat rumah sakit di Mranggen, Demak, sekitar dua bulanan yang lalu. Lalu kami buka di Kendal karena di sana kami punya teman komunitas lain, kolaborasi dengan mereka. Terus belum lama ini kami buka di Ngaliyan,” bebernya.

Rencananya, Remen Sedekah Community akan mengadakan gerobak sedekah lagi. Ada tiga jumlahnya, dua bakal ditempatkan di Kendal, satunya di Lamper, Semarang.

Amel menegaskan, sedekah makanan ini tidak hanya diperuntukkan bagi umat muslim saja. “Kami tidak membatasi untuk orang Islam saja, tapi siapun yang memang membutuhkan,” ungkapnya. Hanya saja, sementara ini penempatannya baru ada di masjid-masjid. (*)

editor : ricky fitriyanto