in

Gagasan Widhi Handoko Soal Kampus PTN di Pati Tuai Pro-Kontra

SEMARANG (jatengtoday.com) – Warganet mulai menanggapi gagasan Widhi terkait urgensi keberadaan kampus negeri di Kabupaten Pati. Komentar mereka diungkapkan lewat media sosial Facebook.

Layaknya menanggapi ide-ide gebrakan, ada warganet yang setuju, ada juga yang masih mempertanyakan gagasan pria yang juga Pendiri sekaligus Ketua Umum Sarjana Antikorupsi Integritas Indonesia (Sakti) tersebut. Seperti yang diungkapkan akun Kusuma Admaja. Dia merasa, Pati belum siap punya kampus negeri. Menurutnya, di tingkat SMP dan SMA saja banyak pungutan liar (pungli). Apalagi jika ada perguruan tinggi negeri.

“mengko durung kesusu… pungli SMP ,SMA ne wae isih mblader kok arep gawe Perguruan Tinggi negri… nambah deret panjang per punglian,” komentarnya.

Sementara akun Mohamad Nasikin memberikan komentar agak nyinyir. Dia pesimistis, dosen honorer yang nantinya mengajar di sana tidak akan mendapatkan honor rutin. Akun ini juga memerkirakan, dosen-dosen di sana bakal menyandang predikat ‘dosen perjuangan’ karena harus mengajar tanpa mengharapkan bayaran tepat waktu.

“Lha kalau perguruan tinggi yg baru kan dananya sok ada sok belum ada, Jadi dosennya harus berjuang siap untuk dibayar sok bisa tepat kadang ya meleset tanggalnya,” komennya.

Meski begitu, ada warganet yang mendukung realisasi kampus negeri di Pati. Seperti pemilik akun Ehsan Batik yang ingin adanya kemajuan di daerah pesisir tersebut. “setuju,.. demi kemajuan pati,.. ayo segera wujudkan, kapan lagi,..”

Senada dengan akun Soko Pati. Dia menganggap, warga Pati sebenarnya punya semangat menenggak ilmu setinggi mungkin. “Minat generasi Pati utk menuntut ilmu sangat tinggi, hal ini bisa kita jumpai ratusan bahkan lebih mahasiswa Pati yg ada di universitas Jakarta, Semarang, Yogya , solo, dan Surabaya” katanya.

Sementara Widhi karena paham kondisi tetap bersikukuh dengan gagasannya. Menurut Ketua DPW Gerakan Nelayan Tani (GANTI) Jateng ini, Kabupaten Pati menjadi tempat strategis untuk didirikan perguruan tinggi negeri. Pasalnya wilayah tersebut merupakan sentral dari sejumlah daerah eks-Karesidenan Pati.

“Pati dikelilingi Rembang, Purwodadi, Blora, Kudus, dan Jepara. Jadi nantinya tidak hanya warga Pati yang bisa menikmati kampus negeri itu. Masyarakat di kabupaten yang mengelilingi Pati bisa kuliah di situ,” terangnya.

Dia juga menjelaskan jika apa yang ditakutkan warga Pati bisa diminimalisir. Mengenai dosen kompeten, misalnya. Jika di Pati tidak ditemukan pengajar yang mumpuni, bisa didatangkan dosen dari luar Pati. Sembari mendapatkan dosen lokal yang berkompeten dan berkualitas. Widhi yakin bahwa di Pati dan sekitarnya banyak orang pandai dan mumpuni menjadi dosen. Namun demikian yang namanya transfer ilmu dapat dilakukan dari mana saja.

“Ilmu perlu ditularkan. Tidak terbatas pada suatu wilayah. Tidak asa salahnya mendatangkan dosen dari luar. Asal berkompeten dan bertanggung jawab mendidik warga Pati dan sekitarnya,” tegasnya.

Widhi yang juga pernah menjadi Balon Wakil Gubernur Jateng dari PDI Perjuangan ini meyakinkan bahwa dia akan melakukan pendekatan dengan sahabatnya yaitu Bupati dan Wakil Bupati Pati. Sekaligus juga akan menjembatani dengan pendekatan kepada pimpinannya di Undip, yakni Rektor Prof. Yos Johan Utama. (*)

editor : ricky fitriyanto