in

Fasilitas Pendidikan Sekarang Lebih Memadai Dibandingkan Zaman Dulu

Guru harus punya kompetensi pedagogik, kepribadian sosial dan profesional.

Koordinator pengawas kabupaten, Sukandar MPd. (istimewa)

DEMAK (jatengtoday.com) – Fasilitas pendidikan di era sekarang lebih memadai dibandingkan dengan dulu. Artinya, tantangan guru tidak lagi buruknya infrastruktur jalan menuju ke sekolah lagi, namun sekarang tantangannya adalah sejauhmana kualitas dan layanan guru terhadap anak didik bisa lebih baik lagi.

Koordinator Pengawas Kabupaten tingkat TK, SD, dan SMP, Sukandar MPd menyampaikan, kondisi infrastruktur maupun sarana prasarana pendidikan sudah semakin baik. Pemerintah daerah telah memperbaiki sarana prasarana yang ada sehingga betul-betul layak.

“Ini patut kita syukuri. Saat zaman saya awal menjadi guru dulu masih merasakan sulitnya meniti jalan yang becek dan licin setelah hujan. Sekarang, mau ngajar ke sekolah bisa pakai motor atau mobil. Jalan sudah beton dan tidak becek lagi,” katanya.

Pria kelahiran Demak, 7 November 1962 ini menuturkan, ia menjadi guru sejak 1 Januari 1982. Pertama kali bertugas  di SDN 1 Kramat, Kecamatan Dempet antara tahun 1982 hingga 1993. Kemudian, menjadi kepala  SDN 1 Harjowinangun  antara tahun 1993 sampai 2004. Lalu, menjadi pengawas mulai tahun 2004 sampai sekarang.

“Saya ini tertua jadi pengawas. Sudah 18 tahun sebagai pengawas,” ujar suami Suparti dan ayah dari Anggoro Adi Nugroho, Nur Arif Asad Widianto dan Maulida Tri Wijayanti ini.

Menurutnya, pengalaman menjadi guru pertama saat itu dari sisi fasilitas masih sangat minim. Kondisi infrastruktur masih apa adanya. Jalan ketika itu masih sangat belum layak. Matol dan becek.

“Karena itu, harus jalan kaki ke sekolah. Saya sendiri tinggal di Desa Kebonsari, Kecamatan Dempet,” katanya.

Lantaran sarana prasarana jalan atau infrastruktur waktu itu cukup minim, maka guru diminta punya kreativitas tinggi. Guru dituntut mampu berkreasi supaya anak didik dapat layanan pendidikan yang baik.

“Berbeda dengan kondisi sekarang yang notabene semua fasilitas terpenuhi dengan baik. Infrastruktur yaitu sarana prasarananya bagus. Meski demikian, kondisi saat itu dianggap enjoy saja. Kita nikmati saja,” jelasnya.

Dia mengatakan, kondisi yang serba minim ketika itu dianggap biasa saja. Kebetulan, kata dia, cita-citanya sejak kecil memang menjadi guru. Hanya saja. Sejak awal justru tidak mendaftar di sekolah pendidikan guru (SPG). Namun, mendaftar di sekolah pertanian.

“Setelah itu, oleh orang tua kemudian disarankan menjadi guru. Jadi, tesnya sempat nyabang,” ujarnya.

Dia mengungkapkan, guru dalam pandangannya memiliki peran yang besar dalam dunia pendidikan.

Tanpa ada guru, anak didik tidak bisa berproses belajar di sekolahan. Guru merupakan pengganti dari orang tua. Merekalah yang mendidik dan membina sehingga anak didik memiliki bekal ilmu pengetahuan yang memadai.

“Guru ini selaku pendidik itu tugasnya tidak hanya membina saja. Namun, juga membimbing dari sisi karakternya siswa. Sekaligus mengajar. Itu yang harus dilakukan guru. Maka, sesuai ketentuan, guru yang bertugas harus memenuhi syarat, utamanya dari sisi kualifikasi atau kompetensi,” kata Sukandar.

Menurutnya, guru harus punya kompetensi pedagogik, kepribadian sosial dan profesional. Dalam hal pedagogik, ilmu ajarnya harus bisa memahami potensi anak didiknya.

Karena itu, guru dituntut bisa memberi pelayanan pada anak dengan tetap melihat  perbedaan tiap individu. Baik terkait sikap kepribadian, maupun emosionalnya juga harus dipahami.

“Guru juga harus bisa berinovasi. Selain mampu mengembangkan diri juga melayani siswa agar dapat  tumbuh berkembang sesuai usianya. Ini harus dipahami,” ujarnya.

Yang pasti, menjadi guru adalah hal yang mulia. Selain bisa mengaktualisasikan diri secara keilmuan, juga dalam rangka mencerdaskan anak bangsa. (*)

Ajie MH.