in

Bendahara Akpol Diduga Terlibat Korupsi DIPA

Majelis hakim memerintahkan barang bukti perkara Mardiyono agar dipergunakan untuk saksi Tanti.

Ilustrasi korupsi (dok)

SEMARANG (jatengtoday.com) — Kepala Urusan Keuangan atau Bendahara Akademi Kepolisian (Akpol), Tanti Agus Rini diduga terlibat dalam kasus korupsi dana Daftar Isian Pelanggaran Anggaran (DIPA) Akpol.

Nama Tanti turut disebut dalam putusan perkara korupsi dengan terdakwa Mardiyono selaku Perwira Urusan Akuntansi dan Verifikasi Urusan Keuangan Akpol atau bawahan Tanti.

Majelis hakim Pengadilan Tipikor Semarang menilai, terdakwa Mardiyono mengorupsi dana DIPA dalam kurun waktu 2013–2018 atas sepengetahuan dan seizin Tanti. Perbuatan itu merugikan keuangan negara Rp615 juta.

Dana yang diselewengkan merupakan anggaran DIPA untuk pos kegiatan dan keperluan harian Akpol. Setelah cair, Mardiyono menyisihkan sebagian anggaran tersebut.

Anggaran yang disisihkan selanjutnya dipindahbukukan ke rekening penampungan–meskipun rekening itu tidak didaftarkan ke institusi.

Berdasarkan fakta sidang, rekening penampungan berisi hasil penyisihan dana berbagai kegiatan subsatuan kerja Akpol. Dana tersebut untuk membiayai kegiatan yang tidak dianggarkan Akpol serta ada yang digunakan pribadi terdakwa.

“Mardiyono bersama-sama Tanti Agus Rini menarik dana DIPA yang diserahkan untuk subsatuan kerja guna keperluan Akpol. Sedangkan sebagian sisa dimasukkan ke rekening penampungan,” ucap hakim Judi Prasetya saat membaca vonis Mardiyono, Rabu (27/3/2024).

Tanti pernah diperiksa menjadi saksi sidang. Tanti mengatakan terdakwa Mardiyono tidak pernah melaporkan pertanggungjawaban keuangan atas penggunaan dana yang dicairkan dari anggaran.

Penyelewengan keuangan negara pada lembaga pendidikan calon perwira polisi tersebut tidak kunjung terendus meski berlangsung lebih dari lima tahun.

Menurut Tanti, tidak pernah ada pengawasan langsung yang dilakukan oleh Bagian Perencanaan dan Administrasi sebagai atasan langsung bendahara.

Sayangnya, penyidik Irwasum Mabes Polri yang mengusut kasus korupsi ini tidak pernah memeriksa Bagian Perencanaan dan Administrasi (Renmin) Akpol. Hal itu sesuai kesaksian Tanti di persidangan.

Atas korupsi itu, Mardiyono divonis penjara empat tahun dan denda Rp100 juta subsider tiga bulan kurungan. Vonis hakim lebih rendah dari permintaan penuntut umum Kejaksaan Agung (Kejagung).

Secara tegas, majelis hakim Pengadilan Tipikor Semarang memerintahkan barang bukti dalam perkara terdakwa Mardiyono agar dipergunakan untuk saksi Tanti Agus Rini. (*)

editor : tri wuryono 

Baihaqi Annizar