in

Pejabat Akpol Dituntut 6 Tahun Penjara karena Gelapkan Dana DIPA

Jaksa juga menuntut terdakwa membayar denda Rp200 juta.

Pejabat Akademi Kepolisian (Akpol) Mardiyono keluar ruangan usai menjalani sidang tuntutan di Pengadilan Tipikor Semarang. (baihaqi/jatengtoday.com)
Pejabat Akademi Kepolisian (Akpol) Mardiyono keluar ruangan usai menjalani sidang di Pengadilan Tipikor Semarang. (baihaqi/jatengtoday.com)

SEMARANG (jatengtoday.com) — Pejabat Akademi Kepolisian (Akpol) Mardiyono dituntut pidana 6 tahun penjara karena dinilai terbukti menggelapkan dana Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) di kantornya.

“Menuntut majelis hakim menjatuhkan pidana enam tahun dikurangi dengan masa tahanan yang telah dijalani,” ucap Penuntut Umum Kejaksaan Agung (Kejagung) Ruri Febrianto dalam sidang di Pengadilan Tipikor Semarang, Rabu (6/3/2024).

Jaksa juga menuntut terdakwa membayar denda Rp200 juta atau bisa diganti enam bulan penjara.

Ruri menyebut terdakwa secara sengaja menggelapkan uang DIPA Akpol. Perbuatannya melanggar pasal 8 Undang-Undang No 31 tahun 1999 tentang pemberantasan korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) Ke-1 KUH Pidana.

Perbuatan terdakwa dianggap tidak mendukung program pemerintah dalam memberantas korupsi. Namun, perilaku sopan terdakwa di persidangan menjadi salah satu pertimbangan yang meringankan hukuman.

Berdasarkan fakta sidang, terdakwa Mardiyono selaku Perwira Urusan Akuntansi dan Verifikasi Urusan Keuangan (Paur Akver Urkeu) Akpol secara sengaja memindahkan sebagian dana DIPA ke rekening pribadi.

Pemindahan itu dilakukan setelah dana untuk kegiatan sehari-sehari lembaga pendidikan ini dicairkan oleh terdakwa dari bank.

Jaksa menambahkan, total penggelapan dana DIPA Akpol pada kurun waktu 2014–2019 mencapai Rp615 juta. Namun, yang dinikmati langsung oleh terdakwa hanya Rp220 juta.

Uang hasil korupsi itu digunakan terdakwa untuk membayar satu unit mobil Honda Jazz senilai Rp197 juta dan ditransfer ke keluarga Rp23 juta.

Atas tuntutan ini, majelis hakim yang dipimpin Judi Prasetya mempersilakan terdakwa mengajukan pembelaan pada sidang pekan depan. (*)

editor : tri wuryono 

Baihaqi Annizar