in

Arisan Online “Japo” Bermasalah, Ada Member yang Sudah Menang tapi Tak Mengangsur

Admin hanya memfasilitasi berjalannya arisan, tidak seharusnya bertanggung jawab mengganti uang arisan yang dibawa kabur member.

Hakim PN Semarang memimpin mediasi antara pihak admin dan member Arisan Japo. (istimewa)

SEMARANG (jatengtoday.com) — Admin Arisan Online Jatuh Tempo (Japo) berinisial YPM mengungkap bahwa arisan bermasalah karena ada member atau anggota yang sudah menang tapi kabur tak mengangsur.

Kuasa hukum YPM, Ahmad WS Dilapanga menjelaskan, sejak Oktober 2021 arisan berbasis online tersebut berjalan berdasarkan kesepakatan lisan seluruh member dengan dasar saling percaya.

Seiring waktu, pada Maret 2022 Arisan Japo berhenti karena ada member berinisial PK dan HY yang sudah menang tetapi enggan mengangsur arisan sesuai kesepakatan.

YPM selaku admin pun beritikad baik dengan menalangi sebagian kerugian Arisan Japo sekitar Rp2,8 miliar. Namun, upaya tersebut membuat YPM terbebani masalah tak berkesudahan yang seharusnya tidak ia tanggung.

“Arisan Japo dijalankan atas kesepakatan bersama. Klien kami hanya admin yang memfasilitasi berjalannya arisan, tidak seharusnya bertanggung jawab mengganti uang arisan yang dibawa kabur member,” ujar Ahmad.

YPM sudah berupaya berulang kali menghubungi member PK dan HY agar mengembalikan uang arisan. Namun, belum ada hasil. Belakangan, YPM justru disalahkan dan difitnah sebagai penipu oleh member arisan yang lain.

Gugat Perdata

YPM melalui kuasa hukumnya mengajukan gugatan di Pengadilan Negeri (PN) Semarang karena merasa dikhianati member yang membuat arisan ini tidak berjalan semestinya.

Ada 18 member yang digugat, dua di antaranya adalah PK dan HY yang dinilai telah wanprestasi atau ingkar janji tidak memenuhi kewajiban sesuai kesepakatan yang telah dibuat bersama secara lisan dengan asas saling percaya.

Disebutkan ada total 30 member dalam arisan tersebut, artinya ada 12 member yang tidak digugat karena tetap berpegang pada kesepakatan.

Perkara tersebut masih dalam proses persidangan. Mediasi sudah dilakukan dua kali dan pihak penggugat dihadiri oleh kuasa hukum.

“Perbuatan para tergugat yang telah menikmati arisan dan atau telah mendapatkan arisan tidak lagi membayar kewajiban arisan adalah perbuatan wanprestasi,” kata Ahmad.

Proses Pidana

Sebelum menggugat secara perdata, YPM sudah melaporkan member PK dan HY masing-masing pada 30 Maret dan 27 April 2022 di Polda Jawa Tengah atas dugaan kasus penipuan.

YPM memegang beberapa bukti transaksi, termasuk sudah mempunyai hasil audit dari Kantor Jasa Akuntansi yang mengungkap nilai kerugian akibat perbuatan PK dan HY.

Masalah semakin ruwet karena ada lima member yang melaporkan YPM ke polisi. Laporannya berbeda-beda, ada yang melapor Juni, Mei, dan September.

Kelima member tersebut menganggap YPM sebagai orang yang harus bertanggung jawab atas masalah yang timbul pada Arisan Japo.

Secara terpisah, sebelumnya para member yang mengaku sebagai korban menyebut perbuatan YPM menyebabkan kerugian dengan total belasan miliar rupiah.

Salah satunya Lestari yang mengaku rugi Rp500 juta. Saat menagih, menurut Lestari, YPM justru membawa nama petinggi polisi. Hal itu membuat para korban lapor ke Polda Jateng.

“Saat ini laporan masih berjalan. Tapi anehnya dia malah menggugat kami secara perdata. Kalau saya tagih dia bawa-bawa petinggi Polda Jateng,” ujar Lestari.

Sementara itu Kabid Humas Polda Jawa Tengah, Kombes M Iqbal Alqudusy mengatakan Kapolda Jateng tidak ada sangkut pautnya dengan kasus tersebut.

Terkait disebut mencatut Kapolda, pihak YPM merasa tidak melakukan pencatutan. Dia hanya mengatakan kepada member sudah membuat laporan ke Polda Jateng dan itu otomatis jadi atensi Kapolda. (*)

editor : tri wuryono 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *