in ,

Seniman Tidak Dilibatkan Perencanaan Revitalisasi TBRS

SEMARANG – Para seniman dan komunitas seni di Semarang tidak pernah dilibatkan dalam perencanaan revitalisasi Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang. Praktis, mereka teidak bisa memberi masukan saat Pemkot membuat masterplan dan DED. Praktis, masterplan yang sudah jadi pun dinilai tidak kurang pas di mata seniman

Direktur Lab Komunitas Hysteria, Akhmad Khoirudin, mengungkapkan upaya Pemkot Semarang dalam merencanakan revitalisasi TBRS masih perlu dipertanyakan. Pria yang akrab disapa Adin itu, menilai perlu adanya pelibatan para pelaku kesenian dan komunitas supaya revitalisasi TBRS bisa lebih tepat guna.

“Menurut saya, komunitas sangat perlu dilibatkan. Mereka juga yang akan menggunakan ruang tersebut. Kalau tidak tepat guna, malah tidak terpakai maksimal,” kata Adin saat dihubungi, Senin (29/1).

Terpisah, pelaku kesenian di Semarang, Daniel Hakiki, mengungkapkan kesahnya terkait pohon-pohon yang ada di kawasan TBRS. Baginya, apabila pohon banyak ditebangi, maka upaya pemerintah dalam menciptakan ruang terbuka hijau jadi percuma. Dia berpendapat, perlunya kajian ulang mengenai tata ruang supaya nantinya dapat lebih nyaman.

“Persoalannya, kalau tidak dikawal nanti bisa salah sasaran. Bisa jadi, nanti hutan kota di belakang TBRS malah terkena dampak. Saya rasa pemerintah perlu teliti dalam mengaji ini,” ungkapnya.

Tak hanya itu, budayawan Semarang Widyo ‘Babahe’ Leksono, juga menanyakan sistem pengelolaan TBRS yang masih belum dapat diperkirakan. Dia menilai, apabila sistem pengelolaan ruang belum ditentukan, penggunaan ruang juga tidak maksimal. Menurutnya, sistem ini yang perlu dipersiapkan supaya pelaku kesenian dan komunitas mengerti cara kerjanya.

“Kalau yang diharapkan pembangunan fisik menunjang pembangunan manusia, ya sistem pengelolaan ini perlu digarap betul. Jangan sampai nanti ada gedung pertunjukkan yang akhirnya digunakan bukan pada fungsinya,” tegasnya. (ajie mh)

Editor: Ismu Puruhito