in

Sekolah yang Mepet Jalan Tol Belum Dibangunkan Gedung Pengganti

SEMARANG (jatengtoday.com) – Jalan Tol Trans Jawa, segmen Jawa Timur dan Jawa Tengah telah diresmikan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) Kamis (20/12/2018) lalu. Namun di lapangan masih ada sejumlah persoalan yang belum terselesaikan.

Salah satunya penggantian beberapa gedung masjid dan sekolah. Salah satunya Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Islam Dian Utomo di Jalan Honggowongso No 7, Kecamatan Ngaliyan Semarang. Ternyata sekolah tersebut hingga sekarang belum dibangunkan gedung pengganti.

Bahkan proses pembangunan gedung pengganti baru dimulai kurang lebih dua hari lalu. Sementara ini, proses belajar mengajar sebanyak 19 kelas ditempatkan di bangunan relokasi sementara. Bangunan gedung lama MI Nurul Islam ini pun masih berdiri kokoh di tepi jalan tol baru.

“Kami masih menempati relokasi. Awal Desember 2018 ini baru mulai dikerjakan bangunan permanennya oleh PT Waskita. Pekerjaan fisik bangunan baru dimulai dua hari lalu. Baru tahap pemasangan patok untuk paku bumi,” kata Kepala MI Nurul Islam, Dian Utomo, kepada jatengtoday.com, Jumat (21/12/2018).

“Totalnya ada 19 kelas. 13 kelas ditempatkan di bangunan relokasi sementara. Sedangkan 6 kelas lainnya ditempatkan di bangunan milik yayasan di Kelurahan Purwoyoso. Lokasinya masih satu titik dengan bangunan relokasi,” katanya.

Bangunan 6 kelas tersebut memang telah dibangun permanen sebelum adanya pemindahan akibat terdampak pembangunan Jalan Tol Semarang-Batang. “Lokasi pindah yang baru ini memang lintas kelurahan, dulunya ikut Kelurahan Ngaliyan, sekarang ikut Kelurahan Purwoyoso,” katanya.

Menurutnya, sementara perpindahan lokasi sekolah ini tidak berdampak signifikan terhadap jumlah siswa baru. “Enggak tahu kalau tahun berikutnya nanti. Sementara ini alamatnya masih menggunakan alamat lama. Alamat baru akan kami ubah mulai ajaran baru 2019 nanti,” katanya.

Bukan berarti proses perpindahan dan ganti rugi bangunan sekolah tersebut tanpa kendala. Namun kendala yang berasal dari proses ganti rugi ditangani oleh pengurus yayasan. “Kendala pasti ada. Tapi kami fokus ke proses belajar mengajar. Untuk masalah ganti rugi sudah ditangani oleh pengurus yayasan. Kami selaku kepala sekolah bersama para guru fokus proses belajar mengajar,” katanya.

Sesuai perjanjian awal, lanjutnya, relokasi tersebut dijanjikan selama enam bulan. Artinya tahun ajaran baru 2019, seharusnya sudah menempati bangunan permanen yang baru. “Namun melihat progres pembangunan saat ini kayaknya sulit. Tapi nggak tahu kalau pihak Waskita bisa menyelesaikannya pembangunan dan bisa segera ditempati. Perkembangan sekarang baru pemasangan patok,” katanya.

Ia mengakui kondisi proses belajar mengajar di tempat relokasi memang kurang kondusif. Fasilitas terbatas karena sifatnya relokasi. “Atapnya dari asbes, terkena hujan dengan intensitas tinggi rawan jatuh. Bocor dan lantainya berair. Pemborongnya kami panggil untuk diperbaiki. Tapi saat proses kegiatan belajar mengajar tidak terganggu itu, karena biasanya hujan terjadi sore hari,” bebernya. (*)

editor : ricky fitriyanto

Abdul Mughis