in ,

Salah Menonton Film Bisa Menginspirasi Orang Bunuh Diri

Di satu sisi, zaman telah menciptakan akses informasi teknologi bebas dan mudah didapatkan. Masyarakat mendapatkan kemudahan-kemudahan informasi. Apa saja kebutuhan masyarakat nyaris tersedia melalui internet.

Peran media televisi telah diambilalih oleh internet. Tentu ada dampak negatif yang cukup berbahaya. Ketika video, film, bebas beredar di internet.

Sibuknya aktivitas perkotaan membuat banyak orang rentan depresi. Bahayanya, salah memilih film bisa saja menginspirasi seseorang bunuh diri. Seringkali orang depresi tak terdeteksi, tiba-tiba ia mengambil langkah nekat bunuh diri.

“Ada banyak faktor orang bunuh diri. Ini menjadi masalah yang begitu kompleks,” kata Psikiater dari RSUD dr Kariadi Semarang, Psikiatri dr Fitri, SpKJ.

Depresi paling berat dan paling ditakutkan adalah bunuh diri itu. Sedangkan penyebab depresi ada bermacam-macam, bisa masalah ekonomi, keluarga, pekerjaan, hubungan percintaan, sekolah dan lain-lain. Apapun masalahnya, apabila mengakibatkan depresi berkelanjutan, maka dampak terburuknya bunuh diri.

“Apalagi teknologi informasi berkembang pesat. Masyarakat mudah mendapatkan informasi bebas melalui media internet. Misalnya menonton film ataupun video-video yang menampilkan adegan bunuh diri. Sehingga orang depresi bisa terinspirasi terhadap apa yang pernah ditonton atau dilihat,” katanya.

Tentu saja, memilih jenis film menjadi sangat penting. Kadar isi, pesan yang termuat di dalam video, film, akan sangat memengaruhi penontonnya. Apalagi penonton yang memiliki riwayat depresi. Ingatannya akan terinspirasi dari apa yang pernah ia ketahui.

“Tetapi tidak semua orang depresi akhirnya bunuh diri. Sebab, setiap orang memiliki pengetahuan dan benteng diri berbeda-beda,” katanya.

Ia setuju kalau video, film, yang memuat atau memicu orang bunuh diri harus diblok. Sebab, pengaruh video cukup besar dalam memicu perilaku seseorang. “Tetapi depresi jarang yang langsung berat. Ada kategori ringan yang tidak kelihatan, depresi sedang berkelanjutan kemudian menjadi depresi berat,” katanya.

Maka orang yang berada di sekitarnya harus bisa mendeteksi, karena perilakunya pasti berubah. Bisa lebih diam, menarik diri, atau justru gampang marah dan seterusnya. “Setiap orang yang di lingkungan rumah apabila melihat perilaku orang dekat di sekitarnya mengalami perubahan perilaku. Misalanya di keluarga, ada anak sekolah nilainya jadi turun, sulit konsentrasi, maka harus diperhatikan,” katanya.

Kalau orang sudah depresi berat tidak ada kata nekat, sebab hal itu memang proses penyakitnya. “Misalnya darah tinggi, kalau terjadi terus menerus, maka dampaknya stroke. Begitupun depresi, kalau tidak ditangani dampak terburuknya bunuh diri itu. Jadi bukan masalah anak itu nekat apa enggak. Tapi itu bagian dari penyakit,” katanya.

Penanganannya dengan diberikan obat depresi untuk mencegah supaya tidak bunuh diri. “Paling tidak harus lebih perhatian terhadap lingkungan, sekarang ini kan seringkali acuh tak acuh dengan lingkungan. Minimal di keluarga supaya lebih memerhatikan. Depresi berat itu tidak terjadi secara tiba-tiba. Pasti ada perubahan perilaku, bicara, maupun pemikiran, pasti ada perubahan. Maka kesadaran lingkunhan harus dipertajam,” katanya. (Abdul Mughis)