in

Pulau Tirang yang Hilang Tenggelam

TAK banyak orang yang mengenal di mana letak Pulau Tirang Semarang? Pulau kecil tak berpenghuni ini dulunya sempat dijadikan ikon keindahan wisata alam di Kota Semarang. Namun saat ini, pulau yang sempat menyimpan sejuknya rimbun pohon mengrove di ujung Kampung Tapak, Tugurejo, Kota Semarang ini hilang akibat abrasi.

Yang tersisa saat ini adalah garis pantai bekas Pulau Tirang yang hilang akibat tenggelam. Namun setidaknya tempat ini masih menyimpan keindahan berupa Pantai Tirang.

Di kawasan tersebut terdapat sekelompok generasi muda yang bernama Komunitas Prenjak. Sebuah Perkumpulan Warga Peduli Lingkungan, yang hingga kini tetap getol menyelamatkan aset wisata di kampung Tapak RW 04 Tugurejo, Kota Semarang tersebut.

“Akses menuju Pulau Tirang dulunya harus menaiki perahu kayu milik warga setempat. Di pulau tersebut ditumbuhi hutan mengrove dan dikelilingi tambak,” ungkap salah satu aktivis lingkungan Prenjak, Eko Nugroho.

Secara geografis, lokasi Pulau Tirang berada di antara kawasan tambak pesisir utara, di bibir pantai Laut Jawa. “Kami berusaha menyelamatkan aset-aset wisata di kampung kami. Di antaranya menyelamatkan sisa-sisa Pulau Tirang yang hilang tenggelam akibat abrasi. Sekarang sisanya tinggal garis pantai,” ujar Eko.

Salah satu ikon wisata Kota Semarang, Pulau Tirang ini telah raib. Badan pulau berlahan tenggelam dan terkikis abrasi air laut. “Saat ini hanya tersisa garis pantai. Pulau ini habis terkena abrasi besar-besaran. Dulu diameter Pulau Tirang hampir 1 hektar. Sekarang tinggal berbentuk garis pantai,” ungkapnya.

Atas hal itu, upaya penyelamatan yang dilakukan oleh Komunitas Prenjak adalah melakukan penanaman mangrove secara besar-besaran. Hal itu bertujuan agar garis pantai yang tersisa bisa aman. “Lalu kami membuat APO (alat pemecah ombak) yang terbuat dari ribuan ban mobil,” imbuhnya.

Kurang lebih sepanjang 3-4 kilometer sepanjang menyesuaikan lekuk bibir pantai, ribuah ban tersebut digunakan sebagai alat pemecah ombak. “Kami berusaha menyelamatkan pesisir. Jika abrasi dibiarkan, secara otomastis akan menenggelamkan tambak,” imbuhnya.

Selain abrasi, puluhan tahun silam, kawasan Tapak Tugu juga dilanda kerusakan lingkungan akibat limbah dari sejumlah pabrik yang berdiri di perkampungan tersebut. “Para petani tambak, kala itu, banyak yang kehilangan mata pencaharian. Sebab, tambaknya tercemar, ikan-ikan mati, sehingga menyebabkan gagal panen,” ungkapnya.

Pria yang kesehariannya menjadi Sekuriti di PT Golden Manyaran Semarang ini melanjutkan, para pemuda tersebut merasa tergugah dan berjuang untuk memulihkan lingkungan yang memburuk agar kembali normal.

Upaya penyelamatan yang dilakukan para pemuda pecinta lingkungan itu adalah menyulap kawasan tambak seluas Kurang lebih 280 hektar di ujung Kampung Tapak tersebut menjadi kawasan hutan mangrove.

Tambak-tambak itu saat ini telah rimbun pohon Mangrove berjenis Avicennia Marina. Dalam istilah jawa dikenal sebagai pohon “api-api”. Ada juga pohon mangrove berjenis Rizopora.

Rizopora sendiri dibagi menjadi tiga jenis; Mukronata, Apikolata, dan Stilosa. Jika tidak ada yang peduli terhadap lingkungan, jelas dampak kerusakan lingkungannya sangat besar.

Saat ini, keindahan alam masih terlihat di rimbun Hutan Mangrove Kampung Tapak yang menghijau. Terlebih menarik, terdapat ribuan burung jenis kuntul dan blekok di hutan buatan tersebut.

Ribuan burung jenis Kuntul dan Blekok tersebut bisa dinikmati keindahannya kala pagi dan sore. Lahan penghijauan tersebut selain sebagai perlindungan imbas limbah pabrik, juga sebagai tempat perlindungan burung-burung.

Keindahan lain yang bisa dinikmati pengunjung adalah lokasi pemancingan di lahan tambak. Para pemancing hanya dipungut Rp 2.000 sebagai biaya tiket masuk. Sejumlah ikan tambak jenis blanak, munjair, kakap, kiper, rusah-rusah dan ikan sembilan, boleh diambil pemancing. (abdul mughis)

Editor: Ismu Puruhito