in ,

Proyek BKT Tersendat, Empat Hektare Lahan Belum Dibebaskan

SEMARANG – Proyek normalisasi Banjir Kanal Timur (BKT) hingga kini masih tersendat pembebasan lahannya. Sedikitnya ada 4 hektare lahan belum dibebaskan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang.

Baik pedagang kreatif lapangan (PKL) Barito maupun penghuni liar di bantaran sungai belum dipindah. Baru sebagian kecil PKL yang telah dipindah ke Pasar Klitikan Penggaron. Saat ini masih ada ribuan pedagang yang belum dipindah. Selain itu penghuni liar di bantaran sungai juga belum dipindah karena ketersediaan Rusunawa masih kekurangan.

Pjs Sekda Kota Semarang, Agus Riyanto mengakui hambatan tersebut. Misalnya belum semua PKL menerima untuk dipindahkan ke tempat yang sudah disiapkan oleh pemkot. “Memang sebagian tempat tersebut ada yang masih proses dibangun,” katanya, Jumat (16/3).

Hasil inventarisasi secara global masih ada masalah pembebasan lahan. “Ada kurang lebih empat hektare lahan yang belum dibebaskan. Dan ini masih menjadi pekerjaan rumah (PR ) bagi pemkot dalam proyek BKT,” terangnya.

Dijelaskannya, berdasarkan hasil rapat koordinasi bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BWWS), Dinas Pekerjaan Umum (DPU), Dinas Permukiman dan Perumahan (Disperkim), Dinas Tata Ruang, Dinas Perdagangan dan instansi terkait lainnya, relokasi PKL Barito belum semuanya clear.

“Termasuk penghuni rumah yang berada di bantaran sungai akan dipindahkan ke Rusunawa. Memang, jumlah Rusunawa yang dibutuhkan masih kurang. Namun ada pembangunan rusunawa twin block oleh PUPR untuk menambah kekurangan tersebut,” katanya.

Pihaknya menyatakan akan melakukan percepatan, seiring dengan pihak BBWS yang juga akan melakukan percepatan dalam proyek BKT yakni di 2019. “Kami targetkan medio 2018, semua permasalahan tersebut selesai,” tegasnya.

Lebih lanjut, kata Agus, proyek ini dikebut secara simultan. Lokasi mana yang siap dibangun akan langsung dikerjakan. Termasuk lokasi mana yang masih terkendala pembebasan, akan dipending untuk dibangun menyusul.
Sementara itu, sejumlah alat berat dan beberapa truk telah beraktivitas di areal bantaran sungai BKT untuk melakukan pengerukan tanah. Terutama di dekat Jembatan Majapahit.

Pengerukan tanah di bantaran sungai dan sedimentasi ini diperlukan waktu sekurang-kurangnya memakan waktu setahun. Saat ini, aktivitas pengerukan mulai pukul 08.00 hingga pukul 16.30.

“Setiap hari, tercatat rata-rata 50 truk membawa material tanah dari bantaran sungai. Tanah hasil pengerukan dibawa dan dimanfaatkan untuk menguruk rawa-rawa di sekitar Jolotundo Kelurahan Sambirejo, Kecamatan Gayamsari,” kata salah satu petugas pencatat truk, Meni, 58, di areal proyek pembangunan normalisasi sungai BKT.

Saat ini, jumlah alat berat yang digunakan baru dua unit dan lima truk. Sehingga intensitas pengerukan belum maksimal. Dikatakan Meni, kontrak kerja pengerukan dilaksanakan satu tahun. “Harapannya, proses pengerukan bisa selesai dalam waktu satu tahun,” katanya.

Meski begitu, pekerjaan pengerukan tersebut akan dikebut agar bisa lebih cepat selesai. Tentu saja, jumlah armada nantinya akan ditambah lebih banyak untuk mendukung percepatan. “Kalau pekerjaan cepat selesai juga semua senang, pembangunan ada percepatan. Uang segera cair, pekerja bisa mengerjakan proyek lain,” katanya. (Abdul Mughis)

Editor : Ismu Puruhito