in

Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan Terus Ditingkatkan

Profesionalitas GTK terus diasah agar out put pendidikan betul-betul berkualitas dan mampu menghasilkan anak didik yang berkualitas pula.

Kabid pembinaan guru dan tenaga kependidikan Endra Faturahman. (istimewa)

DEMAK (jatengtoday.com) – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Pemkab Demak melalui Bidang Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan terus berupaya meningkatkan kualitas tenaga pendidik. Diantaranya, melalui berbagai kegiatan pelatihan maupun webinar.

Kabid Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan, Endra Faturahman mengatakan, pihaknya sejauh ini telah melalukan pembinaan secara berjenjang.

“Sudah tiga jenjang. Baik untuk kasi, subkor maupun pembinaan untuk guru dan tenaga kependidikan (GTK),” katanya.

Menurutnya, khusus untuk pembinaan GTK, difokuskan untuk GTK SMP, kasi GTK SD dan kasi GTK Paud PNF (Pendidikan Non Formal). Selain itu, pihaknya juga melayani segala urusan GTK terkait kepegawaian. Layanan itu diperlukan dalam mendukung profesionalitas GTK melalui ketersediaan data pokok pendidikan atau Dapodik.

Dapodik adalah sistem pendataan skala nasional yang terpadu dan merupakan sumber data utama pendidikan nasional. Juga bagian dari program perencanaan pendidikan nasional dalam mewujudkan insan Indonesia yang cerdas dan kompetitif.

Endra menambahkan, sebagai tindak lanjut adanya pembinaan terhadap GTK ini, pihaknya telah menggelar bimbingan teknis (bimtek) bagi para guru dan tenaga kependidikan tersebut. Utamanya terkait penulisan publikasi ilmiah dan karya inovatif baik untuk jenjang SD maupun SMP.

“Untuk bimtek jenjang SMP kita laksanakan selama tiga hari. Adapun, target adanya bimtek ini adalah untuk melatih guru dalam membuat publikasi ilmiah dan pembuatan karya inovatif. Ini adalah bagian dari pengembangan keprofesionalan GTK,” katanya.

Profesionalitas GTK terus diasah agar output pendidikan betul-betul berkualitas dan mampu menghasilkan anak didik yang berkualitas pula.  Generasi emas juga akan mudah tercapai bila kualitas guru dan murid sama-sama dapat diharapkan.

“Adapun, output dari bimtek ini adalah para guru dan tenaga kependidikan bisa menulis dan mempublikasikan di jurnal ilmiah. Tulisan mereka di-upload di laman jurnal yang tersedia. Ini akan menjadi salah satu poin untuk membantu peningkatan karir mereka,” katanya.

Bimtek yang diadakan mendatangkan sejumlah narasumber, utamanya dari Universitas PGRI Semarang (UPGRIS). Para narasumber sudah ahli di bidangnya yaitu sebagai dosen  aktif dalam hal kepenulisan karya ilmiah.

Karena itu, kata Endra, para peserta bimtek tidak hanya mendapatkan ilmu tentang penulisan dan publikasi ilmiah saja. Namun, mereka juga dapat menindaklanjuti dengan submit karya inovatif mereka di jurnal ilmiah.

“Untuk bimtek tingkat SMP ini, targetnya 34 orang dari seluruh perwakilan SMP Negeri di Demak. Sebab, yang ikut bimtek ini adalah GTK yang berstatus aparatur sipil negara (ASN),” ujarnya.

Setelah membuat publikasi ilmiah dan karya inovatif ini, peserta dapat poin angka kredit. Itu sebagai salah satu syarat kenaikan pangkat. Pemenuhan angka kredit ini diakui cukup rumit. Karena itu, publikasi ilmiaulh tersebut menjadi penting karena menjadi poin utama selain kegiatan mengajar di kelas.

Karena itu, tergantung keaktifan GTK yang bersangkutan. Sebab, kenaikan pangkat sebetulnya hanya bonus. Tapi, tujuan utama dari bimtek ini sebenarnya adalah penguatan literasi bagi GTK yang kemudian bisa ditularkan ke siswa maupun kepada sesama guru lainnya.

Sebelumnya, lanjut Endra, ada bimtek bagi GTK SD. Out putnya sudah ada 25 orang yang sudah  submit. Adapun, yang ikut bimtek SD ada 45 orang. Selain bimtek publikasi ilmiah dan karya inovatif, juga ada 40 orang GTK yang

“Ikut diseminasi Bahasa Jawa. Jadi, ada dua kelas. Untuk narasumber dari balai bahasa,” ujar Endra.

Untuk jenjang TK, kata Endra, rencanamya bimtek pelatihannya berupa pembuatan inobel. Yaitu, inovasi pembelajaran. Pelatihan diperuntukkan guru jenjang PAUD, TK negeri swasta dan kelompok bermain (KB).

“Targetnya inovasi pembelajaran ini akan lebih dijiwai ketika guru sedang mengajar. Itu outputnya. Juga akan lebih mudah dalam implementasi kurikulum merdeka (IKM)  utamanya dalam membuat media pembelajaran,” katanya.

Guru-guru TK juga lebih kreatif. Bisa berkreasi membuat permainan sebagai alat peraganya. Sebab, kurikulum merdeka terkait langsung dengan masalah teknis. (*)

Ajie MH.