in

Pekerja Migran dari Jateng Mencapai 61.434 Jiwa, Terbanyak Kedua se-Indonesia, Ini Penyebabnya

SEMARANG (jatengtoday.com) – Jawa Tengah merupakan provinsi dengan pengirim pekerja migran terbanyak kedua se-Indonesia. Berdasarkan data dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB), jumlah imigran dari wilayah Jateng mencapai 61.434 jiwa.

Menurut Devi Herawaty dari DP3AKB, kabupaten/kota di Jateng yang menjadi kantung pekerja migran adalah Kabupaten Grobogan dan Kendal.

“Karena itu, Jateng menjadi kantong PMI (Pekerja Migran Indonesia) nomor 2 di Indonesia,” ujarnya saat mengisi Dialog Publik dan Publikasi Film Dokumenter yang diinisiasi Legal Resources Center untuk Keadilan Jender dan Hak Asasi Manusia (LRC-KJHAM) di @Hom Hotel, Jumat (29/3/2019).

Dari jumlah 61.434 jiwa tersebut, lanjutnya, pekerja migran masih didominasi oleh kalangan perempuan. Yakni sebesar 76 persennya, atau 46.580 jiwa. Padahal, menurutnya, perempuan memiliki tingkat kerentanan yang lebih dibanding laki-laki, sehingga pihaknya terus memantau regulasi PMI yang ada.

Dia membeberkan, berdasarkan data yang masuk di Crisis Center BNP2TKI, terdapat 306 kasus yang diadukan. Pun, itu belum termasuk aduan yang dicatat oleh berbagai LSM, yang notabene belum terdata pemerintah.

Menurut Devi, ada banyak jenis aduannya, seperti pemalsuan dokumen PMI, illegal recruit, gaji yang tak kunjung dibayar, PHK sebelum masa kerja berakhir, serta aduan tentang pekerja migran yang tidak dipulangkan meski masa kontrak sudah selesai.

“Yang lebih parah, hingga kini masih ditemukan kasus tindak kekerasan, pelecehan seksual, bahkan masuk dalam perdagangan orang. Itu semua menjadi PR kami,” beber Devi.

Meskipun begitu, warga Indonesia tak kunjung merasa kapok. Menurut analisis pihaknya, hal tersebut dilatarbelakangi adanya keinginan untuk mencari kesejahteraan yang lebih baik, ditunjang dengan kemudahan transportasi dan komunikasi. “Sehingga ini mendorong semakin banyaknya WNI, khususnya perempuan yang ingin bekerja di luar negeri,” imbuhnya.

Di sisi lain, katanya, keterbatasan wawasan dan pemahaman masyarakat, kurangnya persiapan mental, dan kurangnya penguatan ketahanan keluarga, juga menjadi penyebabnya. Jika menilik secara rinci, dari jumlah PMI Jateng di atas, ada sekitar 17.139 orang yang mengalami kerusakan rumah tangga (cerai).

Tingkat pendidikannya pun terbilang rendah. Dari 61.434 jiwa, hanya 1 yang telah lulus strata pendidikan S2 dan 170 orang lulusan S1, serta 345 untuk lulusan diploma. Rata-rata, bebernya, masih didominasi lulusan SD dan SMP, di samping juga ada yang lulusan SMA.

“Yang lulusan SD sederajat ada 21.101, sedangkan lulusan SMP ada 24.058, serta lukusan SMA sebanyak 15.709,” jelasnya.

Selain itu, Devi mengakui bahwa banyaknya PMI juga tidak lepas dari belum optimalnya sistim kontrol pemerintah serta belum adanya jaminan perlindungan yang memadai dari negara tujuan. (*)

editor : ricky fitriyanto