in

Metamorfosis Bisnis Bakmi Sundoro, dari Warung Grobagan Jadi Pabrik Mi Instan

Dari kedai kecil di pinggiran Kota Semarang, Bakmi Sundoro jadi mi instan yang bisa dinikmati di penjuru dunia.

Manajer Marketing R. Ngt Bintari Saptanti menunjukkan produk Bakmi Sundoro. (ajie mahendra/jatengtoday.com)

SEMARANG (jatengtoday.com) – Ada segudang cerita dalam kemasan mi instan berlabel Bakmi Sundoro.

Bakmi Jawa ala Jogja ini dulunya hanya disajikan di kedai yang berada di pinggiran Kota Semarang. Disajikan panas dari dapur yang jadi satu dengan gerobag.

Metamorfosis bisnis Bakmi Sundoro bermula dari ganasnya badai pandemi Covid-19 yang menyerbu awal 2020 lalu.

Bagi sebagian bisnis kuliner, pandemi kemarin bisa jadi mimpi buruk. Tidak sedikit yang terpaksa gulung tikar, atau banting setir demi mempertahankan pundi-pundi rupiah.

Tapi bagi Bakmi Sundoro, pandemi justru jadi sayap untuk melebarkan bisnis. Kini, bakmi Jawa khas Jogja ini dijual kemasan menjadi mi instan di 480 supermarket di Indonesia. Termasuk Papua.

Ya, mi yang mengambil nama kecil Hamengkubuwono II sebagai merek ini jadi bisa dinikmati banyak penggemar dari penjuru Tanah Air.

Bahkan beberapa negara di belahan dunia juga jadi pelanggan tetap Bakmi Sundoro. Seperti Singapura, Hongkong, Australia, Malaysia, hingga Swiss.

Ikuti Digitalisasi

Mengikuti digitalisasi menjadi bisa dibilang bumbu utama kesuksesan Bakmi Sundoro.

Saat pandemi memenjarakan bisnis kuliner, Bakmi Sundoro memanfatkan digitalisasi untuk memperluas pasar.

Manajer Marketing Bakmi Sundoro, R. Ngt Bintari Saptanti bercerita, Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) saat pandemi membuat kedainya tidak bisa mendapatkan rupiah seperti biasanya.

“Waktu itu sebenarnya warung kami tetap ramai, tapi kerap dimarahi Satpol PP,” terangnya, beberapa waktu lalu.

Pasalnya, kedai Bakmi Sundoro di bilangan Jatisari Semarang tergolong kecil. Praktis para pengunjung tidak bisa menjaga jarak sesuai aturan PPKM. Masker pun tidak dipakai karena memang sedang makan.

Bagai pepatah Jawa ‘Dalang Ora Kurang Lakon’, R. Ngt Bintari Saptanti coba-coba menjajakan Bakmi Sundoro lewat online.

Digandeng BliBli

Pucuk di cinta, ulam pun tiba. Bakmi Sundoro mendapat tawaran dari BliBli. Tidak hanya lapak di dunia maya, juga pendampingan berbisnis di era digital. Termasuk pendampingan mengembangkan kualitas produk yang ditawarkan.

Menjual makanan di e-commerce, tentu berbeda dari jualan di rumah makan. Bakmi Sundoro pun mulai mencari cara agar menunya bisa dinikmati di tangan pelanggan dengan keadaan panas agar tidak mengurangi kenikmatan bakmi Jawa.

“Awalnya kami coba produk frozen food. Ternyata banyak kendala karena butuh freezer, dan kendala waktu pengiriman melalui jasa kurir,” terang Bintari.

Inovasi muncul dari BliBli. Yakni mengemas Bakmi Sundoro menjadi mi instan. Minya dikeringkan. Sementara bumbunya dibuat sedemikian rupa agar siapa saja bisa membuat bakmi Jawa khas Jogja senikmat menyantap di rumah makan.

Sayang, gagasan tersebut juga terantuk kendala. “Kendalanya, harga mesin pengering sangat mahal, kami tak mampu beli,” bebernya.

Bintari yang sudah banyak makan asam-garam di dunia kuliner, tidak mau kalah dengan kondisi tersebut.

Dia pun mencari cara lain. “Akhirnya rembukan (diskusi) sama suami, kami akhirnya mampu mengeringkan mi tanpa harus digoreng atau pakai mesin mahal. Cukup dikeringkan dioven, agar kadar air berkurang,” terangnya.

Tahan Tanpa Pengawet Makanan

Tanpa diduga, Bintari mampu mengeringkan mi Bakmi Sundoro hingga menyisakan kadar air 5 persen.

“Awalnya kami coba-coba. Pada percobaan keempat baru didapat kering mi yang pas, kadar airnya hanya 5 persen,” ucap Bintari.

Dengan kadar air 5 persen tersebut, Bakmi Sundoro mampu bertahan hingga satu tahun tanpa bahan pengawet atau kimia lain.

Karena itu, tidak heran jika Bakmi Sundoro mampu menembus izin BPOM, SNI dan sertifikasi halal dari MUI.

“Bahkan produk kami dinyatakan sehat dan aman bagi penderita diabetes karena rendah kandungan gula,” paparnya.

Tidak hanya kualitas produk yang diperkuat, Bintari juga mempercantik kemasan Bakmi Sundoro.

Dari semula plastik biasa, berganti ke kemasan plastik ramah lingkungan berstandar United States Food and Drug Administration (US FDA) atau Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat.

Kemasan ini mengantarkan Bakmi Sundoro ke pasar mancanegara. “Belum ekspor, tapi ada pelanggan di Singapura, Malaysia, Hongkong, Australia hingga Swiss,” tegasnya.

Kalau di Indonesia, lanjutnya, Bakmi Sundoro sudah dijual di 480 swalayan dengan dua varian. Mi goreng dan mi rebus. “Paling banyak di Jabodetabek,” imbuhnya.

Jadi Pabrik Mi Instan

Permintaan konsumen yang melejit membuat Bintari menyulap kedainya yang sederhana menjadi pabrik mi instan.

Pabrik kecil tersebut mampu memproduksi sekitar 1.400 karton per bulan. Setiap karton berisi 32 kemasan mi instan Bakmi Sundoro.

“Sekarang penjualannya rata-rata 800 karton per bulan. Tentunya, sebagian transaksi dilakukan melalui aplikasi Blibli,” ucap Bintari.

Meski telah mengalami kemajuan pesat, Bintari mengaku masih mendapat pendampingan dari Blibli.

Seperti dilibatkan dalam berbagai event nasional. Bahkan pernah diajak podcast dengan putra Presiden Joko Widodo, Kaesang.

“Itu hebat sekali, saya rasa. Saya juga pernah diajak Blibli untuk membuka stand di PRJ (Pekan Raya Jakarta). Yang awalnya saya ngga PD, ternyata responnya (pasar) bagus,” tandasnya.

Sementara itu, Head of Branch Blibli Jateng-DIY, Darma Habibie mengaku memang sedang konsentrasi membantu UMKM dalam mengembangkan pasar dengan memanfaatkan teknologi digital.

BliBli juga terus pendampingan intens dapat membantu mitra Blibli meningkatkan kualitas dan jangkauan produk.

“Kami selalu menekankan pada mereka untuk melakukan perubahan mindset. Mindset bisnis yang selama ini masih konvensional,  kita ubah secara radikal untuk berbisnis secara online,” jelasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.