in

Masih Zona Merah, Ganjar Tak Setuju Aktivitas Warga di Semarang dan Demak Dilonggarkan

SEMARANG (jatengtoday.com) – Masih ada dua daerah yang masuk dalam golongan zona merah Covid-19 di Jateng. Yakni Kota Semarang dan Kabupaten Demak. Meski begitu, banyak pihak yang mendesak agar new normal diterapkan agar aktivitas bisa kembali seperti biasa. Desakan ini sangat terasa di Kota Semarang.

Melihat angka pasien Covid-19 yang masih meningkat, Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo meminta Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi untuk tidak lengah. Dia tidak setuju jika aktivitas di Ibu Kota Jateng dilonggarkan.

“Justru sebaiknya diperketat lagi agar bisa mengendalikan. Masyarakat¬†tolong bantu wali kota agar ini bisa terkendali dengan baik. Tentu wali kota tidak bisa sendirian maka tugas saya membantu dan mengcover kejadian yang berhubungan dengan kota Semarang. Umpama Demak karena Demak ini juga naik, kemudian yang dekat-dekat seperti Salatiga, Kendal, Kabupaten Semarang dan Grobogan, yang juga masih dalam pengawasan,” ucapnya usai rapat evaluasi penanganan Covid-19 di gedung A Laintai 2 Kantor Gubernur Jateng, Senin (29/6/2020).

Selain dua daerah zona merah tersebut, ada 11 daerah yang berada di zona kuning, tapi dianggap masih membutuhkan perhatian khusus.

“Kami punya catatan sendiri yang juga masih kita awasi di samping dua daerah itu. Total ada 11 daerah yang kami anggap masih butuh perhatian khusus meskipun secara petanya sudah kategori sedang,” terangnya.

Untuk mengatasinya, dia meminta PCR dan rapid rest dimasifkan di daerah-daerah tersebut. Beberapa tempat bahkan diklaim sudah siap menggelar PCR massal.

Hanya saja dalam rapat tadi disampaikan bahwa RSUP dr Kariadi membutuhkan satu alat atau mesin yang canggih karena alat yang ada saat ini merupakan tipe lama.

“RSUP dr Kariadi tadi butuh alat mesin yang canggih karena tenaganya ada, tempatnya ada, ya sudah nanti kita bantu. Terus karena Kariadi ini menjadi rumah sakit rujukan, tadi kami putuskan juga untuk segera gedung barunya dibuka. Tinggal sentuhan akhir dan kami siap bantu,” tandasnya.

Terkait kasus di Panti Rehabilitasi Sosial di Rembang, dia mengatakan sudah ada tim medis yang diturunkan untuk membuat klinik darurat DNA menyiapkan tenaga untuk asistensi. Langkah itu diambil supaya bisa dilakukan pengecekan satu persatu dan bisa merawat karena penghuninya adalah lansia.

“Jadi sampai dengan hari ini itu. Untuk yang lain, daerah yang sudah kuning dan mendekati hijau, kami mintakan kepada bupati dan wali kota untuk tetap hati-hati, jangan sembrono, cek terus konsistensinya,” ungkapnya.

Selain beberapa hal itu juga dibahas mengenai stigma negatif yang masih ada di masyarakat mengenai Covid-19. Khususnya ketakutan orang untuk ke masuk atau berobat ke rumah sakit karena takut di-Covid-kan atau orang yang meninggal di rumah sakit di-Covid-kan. Juga stigma masyarakat tentang peng-covid-an itu sebagai upaya rumah sakit untuk mengklaim bantuan dari pemerintah.

“Ini mempersulit karena begitu dimakamkan ternyata hasil labnya negatif dan itu judgement-nya tidak hilang. Maka ini kami sampaikan kepada publik bahwa tidak begitu. Soal upaya klaim juga sudah kita clearance, bahwa tidak begitu adanya,” tandasnya. (sir)

 

editor: ricky fitriyanto