in

Lokalisasi GBL Ditutup, Ratusan WPS Antre Uang Tali Asih Rp 6 Juta

SEMARANG (jatengtoday.com) – Lokalisasi Gambilangu (GBL) yang terletak di perbatasan Kota Semarang dan Kabupaten Kendal resmi ditutup. Masing-masing Wanita Pekerja Seks (WPS) diberi uang tali asih sebesar Rp 6 juta.

Seremonial penutupan lokalisasi, pemberian bantuan, dan pemulangan penghuni Lokalisasi GBL dilakukan di aula Terminal Mangkang, Kota Semarang, Selasa (19/11/2019).

Pantauan di lokasi, meski kegiatan sudah dilakukan sejak pagi, tetapi antrean pengambilan dana bantuan dari Kementerian Sosial (Kemensos) berlangsung hingga sore hari.

Ratusan WPS tampak duduk di kursi, sebagian ada yang duduk lesehan di belakang layar. Mayoritas dari mereka mencoba menutupi wajahnya dengan mengenakan masker.

Sementara itu, petugas dari Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) Yayasan At Tauhid sebagai panitia pendistribusian bantuan, terdengar memanggil WPS secara bergantian.

Salah seorang WPS asal Ungaran, Kabupaten Semarang, mengaku sudah antre sejak lama. Namun ia rela menunggu demi mendapatkan dana bantuan yang telah dialokasikan.

“Ntar kalau nggak diambil kan hangus. Lagian lumayan, dapat Rp 6 juta, buat bekal hidup ke depan,” ujar perempuan berinisial SH itu. Sayangnya ia enggan berkomentar lebih lanjut apakah nantinya uang tersebut bakal digunakan untuk modal usaha atau tidak.

Hal serupa juga dilakukan WPS lainnya. Mereka memilih bungkam saat ditanyai awak media.

Dirjen Rehabilitasi Sosial, Tuna Susila, dan Korban Perdagangan Orang, Kemensos RI, Waskita Budi Kusumo menjelaskan, bantuan sosial ini memang diharapkan menjadi modal usaha para WPS setelah penutupan GBL.

Pihaknya berupaya melakukan hijrah pemberdayaan perempuan, dari sebelumnya masih menjadi WPS, ke depan harus beralih profesi yang lebih baik. “Tidak boleh lagi jual diri,” jelas Waskita.

Berdasarkan rincian, Kemensos menggelontorkan dana Rp 1,356 miliar untuk modal usaha WPS. Dana tersebut dibagi ke 226 WPS (wilayah Semarang dan Kendal). Sehingga per orang mendapat jatah Rp 6 juta.

Waskita menjelaskan, uang Rp 6 juta itu dirinci menjadi beberapa item. Yakni Rp 250 ribu untuk transportasi lokal, Rp 750 ribu untuk biaya hidup, dan Rp 5 juta untuk modal usaha. (*)

 

editor : ricky fitriyanto

 

Baihaqi Annizar