in

Konferensi Internasional, UIN Walisongo Hadirkan Prof Magdy dan Mohd Rormizi

SEMARANG (jatengtoday.com) – Fakultas Ushuluddin dan Humaniora (Fuhum) UIN Walisongo Semarang menggelar konferensi internasional bertajuk ‘Religion, Humanity, & Civilization In Disruptive Era’, Kamis (7/11/2019).

Dalam kesempatan itu, pembicara internasional yang dihadirkan adalah Professor on Comparative Religion and Religious Studies, Mennonite University, USA Prof Magdy Bahig Behman dan Head of Department of Theology and Religion Study, USIM, Malaysia, Dr Mohd Rormizi Abd Rahman.

Selain itu juga terdapat dua pembicara lain. Yakni Researcher on Indonesian Religiousscapes, Humbolt University Berlin Dr Claudia Seise dan Country Director for Indonesia, International Association for Counter terrorism and Security Proffessionals Center for Security Studies R Rakyan Adi Brata.

Panitia acara, Mohamad Sobirin menyampaikan, mereka merupakan pakar keagamaan yang kompeten untuk membedah narasi keagamaan dan aspirasi politik yang dibahas di dunia maya, yang berdampak pada perubahan sosial. “Ini imbas dari Revolusi Industri 4.0, yang merupakan satu fase perkembangan dalam sejarah manusia yang berdampak pada peran agama dalam masyarakat,” jelas Sobirin dalam keterangan tertulisnya, Jumat (8/11/2019).

Menurutnya, konferensi ini bertujuan untuk menghasilkan teori-teori studi Islam dan humaniora berdasarkan perspektif Islam melalui penyelidikan pada isu-isu kontemporer di era yang mengganggu. Selain itu juga mengembangkan model dan metode baru studi Islam dan humaniora integratif, yang kompatibel dengan kemanusiaan, agama, dan spiritualitas yang nyata dan sejati dalam perspektif Islam.

Dekan Fuhum Dr Hasyim Muhammad menambahkan, dampak Revolusi Industri 4.0 sudah sangat kentara. Hal itu bisa kita lihat dengan seksama di media sosial dan situs online.

“Saat ini semua orang bisa berpendapat tentang agama, politik, dan sosial tanpa kita ketahui displin ilmunya. Kebebasan semacam ini bisa berdampak terhadap politik dan sosial keagamaan masyarakat indonesia, harus cerdas bermedsos,” ungkapnya.

Dia menambahkan, implikasi lain dari memasuki wacana keagamaan di dunia maya adalah transformasi penganut agama dalam mengekspresikan keyakinan mereka. (*)

editor : tri wuryono