in

Aneka Hasil Daur Ulang Limbah Plastik Dipamerkan di Kota Lama Semarang

SEMARANG (jatengtoday.com) – Aneka hasil daur ulang limbah plastik dipamerkan di Gedung Oudetrap, Kota Lama Semarang. Mulai dari tas, bros, bunga, celengan, tas anyaman, dan sejenisnya.

Pameran tersebut merupakan rangkaian dari Festival Pemanfaatan Limbah Plastik yang diinisiasi atas kerjasama LP2M UIN Walisongo Semarang, Pemkot Semarang, PKK Kota Semarang, Dharma Wanita Semarang, serta KKN MIT Kota Semarang.

Ketua Panitia Festival, Dr Akhmad Arif Junaidi mengungkapkan, terselenggaranya acara ini berangkat dari keprihatinan banyaknya limbah plastik di Kota Semarang. Bahkan, hal itu sudah menjadi masalah global.

Berdasar data PBB, pada 2015, ada 400 juta ton limbah plastik. Pada tahun berikutnya diprediksi akan terus bertambah jika dibiarkan. Sampah akan menjadi ancaman lingkungan hidup manusia, karena plastik tidak mudah diurai.

“Di media sosial, ada plastik bekas produk mie instan 1993 itu masih ada. Artinya plastik sangat sulit diurai. Kalau dibiarkan bisa menjadi ancaman keberlangsungan hidup manusia. Ini harus ada kebijakan konkret,” jelas Junaidi dalam keterangan tertulisnya, Kamis (20/2/2020).

Menugaskan Mahasiswa KKN Kelola Sampah

Rektor UIN Walisongo Prof Imam Taufiq mengatakan, sebagai bentuk komitmen untuk turut menyelesaikan permasalahan tersebut, lembaganya telah mengutus 510 mahasiswa untuk melaksanakan KKN di 34 kelurahan di Kota Semarang dengan tema utama pengolahan limbah plastik.

Imam mengajak agar pengolahan sampah dilakukan dengan etos yang baik. Jangan sampai ikut buang sampah sembarang. “Berfikir sampah adalah berfikir sosial, tidak lagi persoalan pribadi,” jelasnya.

Menurutnya, saat ini sampah tidak lagi bisa disebut barang kotor, tapi dikemas untuk meraih rupiah. Sampah bisa didaur ulang, sampah organik bisa menjadi pupuk. “Ini tugas penting agar sampah bisa dimanfaatkan. Ini tugas bersama-sama, terutama ibu-ibu,” tutut Imam.

Mengelola Sampah Termasuk Ibadah

Selain itu, kata Imam, pengolahan sampah sebenarnya memiliki nilai religius. Dalam beberapa literatur keislaman disebutkan bahwa hal kecil seperti menjaga kebersihan dan membersihkan duri di jalan yang dapat membahayakan bagian dari ibadah.

Baca juga: Pemkot Semarang Setengah Hati Terapkan Pembatasan Penggunaan Plastik

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang Sapto Adi menjelaskan, pengolahan sampah di Semarang telah dilakukan dengan modern. Sampah yang ada di TPA Jatibarang misalnya telah disulap menjadi listrik berkapasitas hingga 20 ribu watt.

Listrik juga telah dibeli oleh PLN. Selain itu, sampah juga disulap menjadi aneķa barang berharga. “Yang terbaru sampah plastik kami ubah menjadi aspal. Jadi, jangan buang plastik sembarangan,” ungkap Sapto. (*)

 

editor: ricky fitriyanto