in

Kisah Pegunungan Lang Bi Ya Mataram Kuno, Benarkah Ada di Semarang?

SEMARANG (jatengtoday.com) – Jauh sebelum menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), daratan nusantara memiliki kisah panjang masa kerajaan kuno. Uniknya, hingga sekarang jejak situs-situs kuno masih bisa ditemui.

Salah satunya adalah sebuah bukit mungil yang terdapat situs Watu Tugu di Kelurahan Tugurejo, Kota Semarang. Menurut catatan kekaisaran Tionghoa, disebut pegunungan Lang Bi Ya berada di Kota Semarang.

Raja Kalingga atau Ho-Ling, konon, sering berdiri di pegunungan tersebut sembari memandang ke laut utara. Disampingnya terdapat tiang menyerupai batu setinggi 8 kaki atau 2,4 meter disebut “gnomon” atau tiang penunjuk waktu matahari di musim panas.

Analisa peneliti, Gnomon tersebut diduga adalah situs Watu Tugu—yang saat ini masih berdiri di bukit Tugurejo. Situs Watu Tugu memiliki peranan penting untuk menelusuri jejak sejarah di Kota Semarang. Ada pula yang menduga situs tersebut merupakan tapal batas Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Pajajaran.

Namun disayangkan, hingga kini tidak ada perhatian dari pemerintah dan belum dilakukan riset secara otentik.

“Watu Tugu secara artefaktual tidak menjadi tugu perbatasan. Tetapi kalau penambat kapal zaman Mataram Kuno ada kemungkinan besar. Itu interprestasi saya,” kata Arkeolog, Tri Subekso.

Dia menilai situs Watu Tugu setinggi empat meter menyerupai stupa itu diperkirakan lebih tua dari masa Kerajaan Majapahit maupun Pajajaran. Meruntut masa lalu, kawasan tersebut merupakan wilayah pesisir di tepi laut. Ada keterangan yang menyebut pernah ditemukan jangkar kapal di bawah tebing bukit tak jauh dari lokasi Watu Tugu.

“Dulunya, Semarang dikenal dengan sebutan Bukit Pragota. Menurut catatan Badan Perpustakan Daerah Jawa Tengah abad ke-8 Masehi, kawasan Bukit Pragota merupakan wilayah Mataram Kuno. Bisa dibayangkan, tepian pantai Semarang kala itu berbukit-bukit. Dari Tugu, Subali hingga Gedung Batu,” ungkapnya.

Menurutnya, situs Watu Tugu memiliki peranan penting dalam menelusuri jejak sejarah Mataram Kuno di Kota Semarang. Sebab, era tersebut merupakan awal peradaban nusantara. Melihat sisi material culture atau peninggalan arkeologis tentu menarik untuk ditelusuri.

Sejumlah situs kuno yang ditemukan seperti Candi Duduhan di Mijen, Arca Manjusri dari Ngemplak Simongan, Yoni besar di Cangkiran serta beberapa situs Candi Hindu di daerah sekitar Watu Tugu menjadi temuan menarik. Keberadaan Watu Tugu dapat diinterpretasikan pada temuan-temuan situs Mataram Kuno di Semarang.

Tri memiliki hipotesa lain. Berdasarkan literatur, kata dia, situs Watu Tugu tersebut berfungsi sebagai tiang penunjuk waktu di masa lampau. Ia mendasarkan pendapatnya dengan adanya catatan utusan kekaisaran Tiongkok yang merujuk pada Watu Tugu.

“Hipotesa ini muncul dalam buku Nusantara karangan Groeneveldt dalam catatan Tionghoa tahun 1880,” katanya.

Waktu musim panas Watu Tugu menjadi “gnomon”, berarti tiang penunjuk waktu matahari. Raja Kalingga atau Ho-Ling (sebutan dari sumber Tionghoa) sering berdiri di pegunungan wilayah Lang Bi Ya, sambil memandang ke laut utara, di sampingnya ada tiang yang berdiri setinggi 8 kaki atau 2,4 meter.

“Lang Bi Ya menurut catatan kekaisaran Tionghoa berada di Semarang,” katanya.

Pegunungan Lang Bi Ya berbentuk bukit-bukit dan terdapat pemukiman-pemukiman kecil. “Kerajaan Kalingga sendiri juga hanya terdapat di catatan Kekaisaran Tionghoa. Keberadaannya hingga sekarang belum diketahui,” katanya.

Watu Tugu kemungkinan besar sebagai gnomon. Bayangan pada siang hari akan berada di sisi selatan dan memiliki tinggi panjang 2 kaki 4 inchi atau sekitar 70 sentimeter.

“Kemungkinan kuat lokasi yang dimaksud dalam catatan tersebut adalah Watu Tugu sesuai dengan letaknya yang berada di atas perbukitan dan langsung menghadap ke utara laut Jawa,” katanya.

Secara fisik, situs Watu Tugu jelas sebagai bangunan kuno. Tetapi bangunan Candi di bukit tersebut adalah bangunan baru. Namun demikian, fungsi Batu tersebut untuk apa tentu masih perlu dikaji lebih lanjut. Termasuk apabila sebagai gnomon. “Kita bisa mengaitkan dengan keberadaan situs yang lain. Termasuk landskapnya yang berbentuk bukit kecil dengan menghadap ke laut lepas,” kata dia. (*)

editor : ricky fitriyanto

Abdul Mughis