in

Khawatir Semarang Tenggelam, Bocah Ini Surati Presiden Jokowi

SEMARANG (jatengtoday.com) – Sekelompok aktivis peduli lingkungan bersama anak-anak dan penyandang difabel melakukan aksi damai di Kota Semarang, Jumat (27/9/2019). Aksi ini dinamai Karnaval #JedaUntukIklim Semarang.

Mereka berkumpul sejak pukul 07.00 di depan Masjid Baiturrahman Semarang, kemudian melakukan pawai dengan berjalan kaki mengelilingi Lapangan Simpang Lima dengan aneka kostum alam, spanduk, dan poster tentang krisis iklim. Titik akhirnya di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah Jalan Pahlawan Semarang untuk menyampaikan aspirasi.

Bahkan seorang anak peserta aksi, Vimala Sakanirvana (13), dari homeschoole memiliki gagasan mengirim surat kepada Presiden RI Joko Widodo. Sebab, krisis iklim jika tidak ditanggulangi dikhawatirkan mengakibatkan kota-kota tenggelam.

“Saya sedih kalau bumi makin panas, es-es di kutub mencair, permukaan laut semakin tinggi. Kalau tidak ditanggulangi, bisa-bisa Semarang tenggelam. Lalu masa depan kami bagaimana dong?” katanya.

Sedangkan peserta lain, Reza Kurniawan (20), mengarang puisi sendiri untuk dibacakan. “Alam sekarang ini sudah krisis. Kalau bukan kita siapa lagi yang mau menolong alam ini? Supaya paling tidak anak cucu kita bisa menikmati alam yang lebih baik,” katanya.

Demikian juga Roetji Noor Soepono (8) yang datang dari Solo bersemangat untuk menyampaikan aspirasi. “Dulu saya sering lihat belalang dan kupu-kupu, tapi sekarang tinggal sedikit. Dulu musim hujan dan kemarau teratur, sekarang tidak teratur. Kotaku semakin panas, juga kota-kota yang lain, tapi yang menyadari alam semakin rusak itu masih sedikit,” katanya.

Senada, Kenyo Sukmaning Gesang (17), siswa kelas XI SMA Semesta mengatakan jika krisis iklim tidak segera ditanggulangi, maka mimpi-mimpi anak sekarang akan hangus begitu saja. “Saya berharap para wakil rakyat peduli terhadap krisis iklim, sehingga masa depan remaja-remaja di Indonesia bisa diselamatkan,” ungkapnya.

Koordinator #JedaUntukIklim Ellen Nugroho, mengatakan Karnaval #JedaUntukIklim Semarang ini adalah bagian dari gerakan anak muda sedunia Global Climate Strike 22-27 September 2019.

“Anak-anak peserta aksi terlibat secara aktif dalam persiapan karnaval. Mereka membuat poster, spanduk, kostum, dan atribut bertema kelestarian alam dan lingkungan. Yang tampil di panggung aspirasi juga anak-anak. Mereka membacakan puisi dan surat untuk presiden, memberikan orasi tentang krisis iklim, menyanyi dan berdoa,” katanya.

Fahmi Bastian dari WALHI Jawa Tengah, mengatakan emisi karbon mestinya diserap oleh pohon-pohon. “Sayangnya, cakupan hutan di Jawa Tengah saat ini tinggal 18 persen dan masih mungkin terus berkurang untuk pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi dan alih fungsi lahan lainnya. Maka desakan perlu dilakukan bukan hanya di level global, tapi juga lokal,” katanya.

Sementara itu, Kepala Divisi Sumber Daya Alam LBH Semarang Nico Wauran khawatir terjadi penurunan kualitas lingkungan di Semarang dan Jawa Tengah. Pasalnya, data peruntukan lokasi industri menurut Revisi Perda No 6 Tahun 2010 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Jawa Tengah menyebut bahwa industrialisasi relatif merata di seluruh kabupaten/kota Jawa Tengah.

“Industrialisasi ini mengancam ekosistem, seperti misalnya pembangunan pabrik semen di pegunungan Kendeng dan rencana pengembangan kawasan industri di areal mangrove Kecamatan Tugurejo Semarang,” tegasnya. (*)

editor : ricky fitriyanto