in

Kepiting Sawah Hama Perusak Jaringan Irigasi

Ada beberapa cara pengendalian yang dapat dilakukan yakni pengendalian fisik.

ilustrasi

DEMAK (jatengtoday.com) – Salah satu hama yang banyak terdapat di banyak areal persawahan adalah kepiting sawah atau sering disebut yuyu. Keberadaan hewan air ini ternyata cukup meresahkan petani. Meski sebenarnya Yuyu atau kepiting sawah sudah ada sejak lama, namun serangnnya mulai mengganas beberapa tahun terakhir.

Keberadaan hewan ini ternyata merusak infrastruktur pertanian terutama jaringan irigasi dan pematang sawah. Tanggul atau pematang sawah yang bocor akibat serangan kepiting akan menjadi penyebab keluarnya air, akhirnya sawah menjadi kekurangan air dan ikan pun akan mudah keluar dari lubang-lubang kepiting tersebut.

Bukan hanya merusak infrastruktur, Yuyu yang muncul pada malam hari ini juga menyerang tanaman padi dengan cara memotong batang padi yang baru tumbuh dengan capitnya hingga patah, dan menyebabkan batang padi menjadi mati.

Dijelaskan oleh plt Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Demak Agus Herawan, bahwa dengan populasi cukup banyak dan berkembang dengan cepat tentunya sangat mengganggu para petani di wilayah Demak. Beberapa wilayah yang memiliki tanah pertanian yang luas juga mengalami masalah ini.

“Ini masalah serius yang harus ditangani secara bersama-sama, karena jika dibiarkan akan membuat hasil panen berkurang bahkan gagal karena tanggul yang jebol,” ujarnya.

“Untuk itu perlu dilakukan upaya pengendalian yang tepat, dikarenakan dampak kerusakan yang ditimbulkan cukup luas,” tegasnyta.

Menurutnya ada beberapa cara pengendalian yang dapat dilakukan yakni pengendalian fisik/mekanik yaitu mengumpan dan menangkap kepiting pada malam hari karena kepiting keluar pada malam hari. Alat dan bahan yang digunakan adalah bubu (perangkap), lampu petromak, umpan dengan kelapa busuk, umpan dengan daun papaya yang dicincang, nasi aking atau nasi bekas (sengauk) dan dipasang pada saluran irigasi yang airnya dikecilkan atau di pematang sawah dekat lobang aktif.

Kemudian ada pengendalian dengan pestisida nabati dengan memakai bahan-bahan seperti kulit jengkol, umbi gadung, akar tuba, daun pepaya, daun sengon, umbi temu ireng, dan daun mindri.  Pestisida organik ini juga sekaligus bisa digunakan sebagai pupuk organik cair.

Pemasangan umpan beracun pestisida sebagai alternatif pengendalian terakhir apabila cara pengendalian diatas tidak berasil yaitu dengan nasi sengauk yang diisi racun kontak dan lambung, ditebarkan juga dekat lobang aktif kepiting.

Perlu diketahui bahwa kepiting sawah atau Yuyu adalah hewan arthropoda yang termasuk dalam golongan kepiting air tawar,, yang mempunyai sifat unik tidak seperti kepiting local. Keunikannya adalah warna tubuh hitam, dengan kapit kemerahan, membuat lobang kebawah maupun kesamping bisa mencapai kedalaman 2 meter. Siklus hidup dimulai dari betina dewasa bertelur pada bagian dalam dadanya dan menampung anaknya berjumlah ribuan ekor setelah menetas sampai dia siap mencari makan sendiri.

Diperlukan waktu sekitar 25 hari kepiting sudah mulai dewasa. Anak-anaknya kelihatan kalau dibuka dadanya berjumlah banyak seperti gerombolan semut. Keluar pada malam hari menyukai tempat yang banyak bahan organic dan sisa makanan yang terbuang keparit atau selokan. Lebih tertarik pada daerah yang berbau busuk dan banyak lobang aktif. Tidak dapat dimakan karena rasanya pahit yang diduga beracun, dan sampai saat ini belum dijumpai musuh alaminya (pemangsa) yang menyebabkan populasinya selalu meningkat. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *