in

Kasasi Sukawi Ditolak, Tan Yangky Menangkan Sengketa Pertanahan di Semarang

Menurut majelis hakim, tidak terjadi tumpang tindih sertifikat antara tanah milik Sukawi dengan tanah milik Tan Yangky.

Ilustrasi (freepik)

SEMARANG (jatengtoday.com) — Putusan kasasi mengakhiri perseteruan antara Sukawi Sutarip dengan Tan Yangky Tanuputra yang saling berebut status kepemilikan sebidang tanah di Kota Semarang.

Majelis hakim kasasi yang dipimpin Nurul Elmiyah memutuskan untuk menolak permohonan kasasi yang diajukan Sukawi. Dengan kata lain, sengketa pertanahan ini dimenangkan Tan Yangky.

“Menolak permohonan kasasi dari pemohon kasasi: H. Sukawi Sutarip, SH., SE., tersebut; Menghukum pemohon kasasi untuk membayar biaya perkara pada tingkat kasasi ini sejumlah Rp500.000,” ujar hakim dalam amarnya.

Kasasi di Mahkamah Agung tersebut sebenarnya sudah diputus pada 18 Agustus 2022 lalu. Namun, pemberitahuan putusan kasasinya baru dilakukan 24 Oktober 2022.

Meski kalah kasasi, Sukawi mantan Wali Kota Semarang itu masih bisa mengajukan upaya hukum luar biasa berupa peninjauan kembali (PK). Namun, upaya PK tidak bisa menghalangi eksekusi putusan kasasi.

Perjalanan Kasus

Sengketa pertanahan ini sudah berlangsung lama. Pada 14 Desember 2020 Sukawi menggugat Tan Yangky di PN Semarang. Sukawi juga menyeret Badan Pertanahan Nasional (BPN) Semarang sebagai turut tergugat.

Objek sengketanya adalah sebidang tanah di Kelurahan Bendan Ngisor, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang.

Saat itu Sukawi tidak terima karena Tan Yangky mendirikan bangunan di atas lahan miliknya. Sukawi punya sertifikat sebagai bukti kepemilikan. Namun, Tan Yangky juga mempunyai alas hak yang jelas.

Sehingga ada dugaan terjadi tumpang tindih (overlapping) sertifikat di lahan yang sama.

Pada 16 Juni 2021, majelis hakim PN Semarang mengabulkan gugatan Sukawi.

Baca Juga: Merasa Sertifikat Tanahnya Diserobot, Mantan Wali Kota Semarang Sukawi Sutarip Gugat BPN

Dalam putusan disebutkan, tanah yang berlokasi di Bendan Ngisor itu adalah sah milik Sukawi. Hal itu dikuatkan dengan sertifikat hak milik nomor 712, surat ukur yang dibuat tahun 1984, dan petunjuk buku tanah HGB.

Sebaliknya, sertifikat tanah pada lokasi yang sama yakni SHGB nomor 1079 atas nama Tan Yangky dan surat ukur nomor 30 yang dibuat tahun 2000, tidak mempunyai kekuatan hukum.

Majelis hakim juga menyatakan, perbuatan Tan Yangky yang telah mengklaim dan mendirikan bangunan di atas tanah tersebut dinilai melawan hukum.

Tan Yangky Banding, Sukawi Kalah

Meski kalah pada tingkat peradilan pertama, Tan Yangki tidak mau menyerah. Ia yang merasa dirugikan langsung mengajukan upaya hukum banding di Pengadilan Tinggi Semarang pada 23 Juni 2021.

Putusan banding akhirnya keluar 5 Oktober 2021. Kini giliran Tan Yangky yang tersenyum lebar. Sebab, majelis hakim banding mengabulkan permohonan yang diajukan, sekaligus meruntuhkan kemenangan Sukawi sebelumnya.

“Menerima permohonan banding. Membatalkan putusan PN Semarang Nomor 560/Pdt.G/2020/PN Smg yang dimohonkan banding tersebut,” ucap hakim ketua FX Jiwo Santoso dalam amarnya.

Atas putusan tersebut, Sukawi mengajukan upaya hukum kasasi yang kelak ditolak.

Alasan Penolakan Kasasi Sukawi

Kasasi Sukawi ditolak karena majelis hakim kasasi menilai, keputusan Pengadilan Tinggi Semarang untuk membatalkan putusan PN Semarang, tidak terdapat kesalahan dalam menerapkan hukum.

Terkait pokok perkaranya, dalam putusan kasasi ada banyak pertimbangan mengapa kasasi Sukawi ditolak. Di antaranya karena ternyata tidak terjadi tumpang tindih sertifikat.

Berdasarkan peta planning SHGB Nomor 403/Bendan Ngisor yang kemudian ditingkatkan menjadi SHM Nomor 712/Bendan Ngisor atas nama Sukawi, di sebelah utara berbatasan dengan SHGB Nomor 1079/Kel Bendan Ngisor milik Tan Yangky.

Berdasarkan berita acara pengukuran bidang tanah, SHM Nomor 712 milik Sukawi tidak terletak di lokasi tanah milik Tan Yangky, melainkan terletak di tempat lain yang berbatasan dengan SHGB Nomor 410/Bendan Ngisor.

“Sehingga letak tanah obyek sengketa milik Tan Yangky tidak terjadi tumpang tindih dengan letak tanah milik Sukawi karena posisi letak tanahnya berbeda,” tulis hakim dalam putusannya. (*)

editor : tri wuryono

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *