in

Jalani Sidang Etik soal Heli Mewah, Firli Bahuri: Maaf, Saya Tidak Rilis

JAKARTA (jatengtoday.com) – Ketua KPK Firli Bahuri enggan menjelaskan isi sidang etik yang baru saja ia jalani. Dia menyerahkan kepada Dewan Pengawas terkait materi sidang.
“Saya tidak rilis ya karena sudah saya sampaikan semua ke Dewas,” kata Firli di gedung ACLC atau gedung KPK lama Jakarta, Selasa (25/8/2020).
Sidang etik yang digelar Dewan Pengawas KPK secara tertutup mulai pukul 09.00 WIB di auditorium Randi Yusuf. Firli dikonfrontasi dengan pelapornya, Koordinator Masyarakat Anti-Korupsi Indonesia (MAKI) Boyamin Saiman selama sekitar 1,5 jam.
“Nah kan saya sudah sampaikan nanti biar Dewas yang sampaikan semuanya, ya mohon maaf ya saya tidak berikan keterangan di sini, semua tadi sudah saya sampaikan ke dewas,” tambah Firli.
Firli juga enggan menanggapi permohonan Boyamin kepada Dewas KPK yaitu bila Firli terbukti melanggar etik maka ia turun jabatan hanya menjadi Wakil Ketua KPK saja. “Kita ikuti undang-undang saja ya,” jawab Firli singkat.
Ketua Dewas KPK Tumpak Hatorangan Panggabean sebelumnya mengatakan sidang etik akan dilakukan tiga hari berturut-turut pada 24-26 Agustus 2020 untuk tiga orang pegawai dan pimpinan KPK. Sidang etik ini merupakan yang perdana sejak Dewan Pengawas KPK dilantik pada 20 Desember 2019.
Firli diadukan Masyarakat Anti-Korupsi Indonesia (MAKI) terkait dengan penggunaan helikopter mewah saat perjalanan dari Palembang ke Baturaja, Sumatera Selatan pada 20 Juni 2020. Perjalanan dari Palembang menuju Baturaja tersebut menggunakan sarana helikopter milik perusahaan swasta dengan kode PK-JTO.

Data Helikopter

Koordinator Masyarakat Antikorupsi Indonesia (MAKI), Boyamin Saiman, mengaku dikonfirmasi Dewan Pengawas KPK perihal data helikopter yang disewa Ketua KPK, Firli Bahuri.
“Untuk materi terus terang tidak bisa dibuka, tetapi ada beberapa hal yang disampaikan karena memang sidangnya tertutup. Tetapi prinsipnya persidangan tadi mengonfirmasi aduan saya. Benar saya adukan dengan data yang kemarin naik heli fotonya terus tidak pakai masker, kemudian saya lengkapi beberapa misalnya perjalanan saya sebutkan,” kata Boyamin.
Ia mengaku helikopter yang disewa Bahuri –asalnya dari Sumatera Selatan– dalam perjalanannya dari Palembang ke Baturaja, Sumatera Selatan, itu pernah dipakai petinggi di Indonesia. Helikopter ringan itu diketahui memiliki nomor registrasi PK-JTO.
“Saya juga mencari helikopter itu milik siapa karena pernah dipakai petinggi di republik ini dari Solo ke Semarang pada 2015 dari suatu perusahaan X. Apakah itu perusahaan masih atau bagaimana saya tidak bisa buktikan. Tahun 2015 masih perusahaan itu, tahun 2018 ke sini apakah masih perusahaan itu atau tidak saya juga tidak bisa menyimpulkan, tugasnya dewas,” katanya.
Dalam sidang itu, ia menyatakan, posisi Firli sifatnya hanya menanggapi atas keterangannya. Selain itu, kata Saiman, Bahuri menyampaikan helikopter itu disewa menggunakan uang pribadi.
“Iya lebih banyak saya dimintai keterangan aduan saya. Pak Firli sifatnya hanya tanggapi. Pak Firli katakan sudah dibayar tetapi saya kan menyampaikan dibayar “full” dapat diskon atau lain, Pak Firli jawab bayar sendiri dan full. Nanti apakah pembayaran standar atau tidak itu tugasnya dewas bukan saya,” ujar Saiman. (ant)
editor : tri wuryono