in

Derita Nelayan Tambaklorok, dari Ancaman Gelombang Tinggi hingga Pandemi Covid-19

SEMARANG (jatengtoday.com) – Kondisi ekonomi nelayan tradisional di Kampung Tambaklorok, Kota Semarang semakin terhimpit. Ada berbagai kendala yang harus dihadapi, mulai ancaman gelombang tinggi hingga pandemi Covid-19.

Baru-baru ini, BMKG Stasiun Maritim Tanjung Emas Semarang merilis peringatan dini gelombang setinggi 1,25 m sampai 2,5 m yang berpeluang terjadi di perairan Jawa bagian tengah. Peringatan tersebut berlaku 7-9 Juni 2020.

Salah satu nelayan, Sabar (48) merasakan sendiri tingginya gelombang air laut. Hal itu pula yang membuatnya was-was melaut meskipun jangkauan kapal tradisionalnya biasanya hanya radius sekitar 4 KM.

Menurut dia, mayoritas nelayan di Tambaklorok pergi mencari ikan di saat malam hari. “Kami biasanya berangkat jam 7 malam pulang jam 3 pagi. Karena kalau siang sampai sore gelombangnya lebih tinggi,” ujar Sabar.

Kondisi tersebut, katanya, sangat mempengaruhi hasil tangkapan nelayan. Terakhir, kelompoknya yang beranggotakan 10 orang hanya mendapat 60 kg ikan.

Sementara itu, nelayan lain yang bernama Ardi (40) mengeluhkan hasil penjualan ikan yang menurun di masa Covid-19 ini.

Dia mencontohkan dengan harga ikan teri yang semula per kg dihargai Rp15.000, kini hanya Rp10.000. Ikan petek yang normalnya Rp5.000 sekarang Rp3.000. Begitu pula harga ikan teri nasi yang harusnya bisa Rp40.000 anjlok menjadi Rp25.000. (*)

 

editor: ricky fitriyanto