in ,

Bisnis Kedai Kopi Masih Menjanjikan

SEMARANG – Meski sudah menjamur, bisnis kedai kopi masih menjanjikan. Jika dikemas menarik, kedai kopi tak akan pernah sepi konsumen. Seperti yang dilakukan Knk Koffee Resources dan Kafe Lost In Coffee di Jalan Dewi Sartika Raya Nomor 5, Sampangan, Semarang. Selain menyuguhkan kopi, kedai tersebut menjadi semacam laboratorium kopi untuk edukasi

Sebanyak 25 jenis kopi ternama dari seluruh pelosok Indonesia, disediakan di sana dalam bentuk biji. Jika ada pesanan, biji kopi tersebut baru di-roasting, kemudian digiling. Hal itu untuk menjaga kesegaran kopi sebelum disedu dengan air hangat.

Roasting dan grinding merupakan proses pembuatan kopi yang tergolong penting di dunia kopi. Teknik itu pun tidak banyak dikuasai penikmat kopi biasa. Ada banyak hal menarik dalam proses itu. Mulai dari level pemanggangan, pengaturan suhu panas, yang akan menghasilkan beraneka ragam varian rasa kopi.

Pemilik Kedai, Agung Kurniawan menjelaskan, nekat memulai usaha kopi sejak 2013 silam. Awalnya berupa coffee shop bahka hingga berkembang mengelola sebanyak enam tempat di Semarang.

“Saat ini suplay kami jadikan satu di sini. Sekarang lebih banyak fokus menjadi suplayer kopi dan roasting. Kafe di sini kami fungsikan sebagai studio untuk pelatihan, edukasi, costumer yang ingin mencoba atau memulai bisnis kopi. Kami sediakan pelatihan di sini. Jenis kopi kurang lebih 25 item kopi yang berasal dari seluruh Indonesia, mulai dari Aceh hingga Papua,” tuturnya.

Studio kopi yang dilengkapi dengan peralatan mesin pengolah kopi tersebut bisa dimanfaatkan untuk pembelajaran mengenai cara mengolah kopi. “Sekaligus sebagai tempat nongkrong. Makanya, kafe ini kami berinama lost in coffee, karena memang awalnya tidak muluk-muluk, yakni hanya ingin memiliki tempat nongkrong,” katanya.

Di tahun 2003, tuturnya, perkembangan kopi belum sedetail sekarang. Waktu itu, kopi masih cenderung original saja berupa bubuk. Tapi pada perkembangan berikutnya, hadirlah pengolahan biji kopi goreng yang berasal dari daerah-daerah.

“Kemudian berkembang biji kopi tersebut digiling mendadak kalau ada costumer yang pesan. Sekarang semakin detail, bahkan cara roasting berpengaruh terhadap rasa. Di sini ada kopi Kintamani, Papua, Aceh, dan lain-lain. Kalau kopi lokal ada dari Temanggung, Wonosobo, Gunung Kelir dan lain-lain. Per-bulan, kebutuhan pasokan seluruhnya bisa mencapai 500 kilogram,” katanya.

Untuk mendapatkan suplay kopi, dia bermitra dengan para petani dan pengepul. “Rasa kopi bisa dipengaruhi mulai proses tanam hingga pasca panen. Ada berbagai cara, yang akan menghasilkan varian rasa. Rasa juga berpengaruh lagi saat proses roasting. Biji masuk mesin roasting, ada proses goreng hingga penggilingan. Nanti ada istilah light, medium hingga dark. Market sekarang lebih banyak di light dan medium,” terangnya.

Tidak hanya penikmat kopi, hampir 70 persen pengusaha coffee shop di Semarang mengambil stok di tempat tersebut. “Selain itu, kami juga rutin mengadakan kelas atau klinik kopi untuk pelatihan menyeduh secara manual. Apalagi sekarang banyak orang sudah memiliki alat seduh sendiri,” katanya.

Kedai kopi itu pun menarik perhatian Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi. Dia melihat, bisnis-bisnis kreatif seperti itu harus dikembangkan hingga menginspirasi pemuda yang lain. “Ini bisnisnya semakin hari semakin besar. Temannya juga semakin banyak. Pemerintah mendukung dan memberikan perhatian. Kami punya kredit Wibawa ya monggo aja bisa dimanfaatkan, dengan memenuhi ketentuan seperti memiliki izin usaha mikro dan kecil di Dinas Koperasi. Setelah punya izin, dilengkapi surat domisili lalu diserahakan ke dinas koperasi. Ada tiga bank yang kami ajak kerjasama, Bank Jateng, Bank Pasar Kota Semarang, dan Bank Muamalat. Masyarakat bisa memberikan kredit tanpa agunan Rp 5 juta, dengan agunan Rp 50 juta. Kemudian bunganya murah, hanya 5 persen per tahun, monggo dimanfaatkan,” katanya.

Usaha itu, menurut Hendi, juga membuka lapangan pekerjaan. “Mestinya persoalan pengangguran bukan karena tidak ada lapangan pekerjaan. Tapi tergantung masing-masing, mau enggak untuk meng-create usaha. Berbicara bekerja kan tidak harus jadi PNS (pegawai negeri sipil), pegawai BUMN, pegawai swasta. Tapi bagaimana kita melihat situasi di sekitar kita untuk dikelola. Sehingga bisa menghidupi keluarga. Mas Agung melakukan itu, kami beri motivasi. Kami beri apresiasi kepada anak muda seperti Mas Agung ini untuk tumbuh berkembang di kota kita tanpa harus malu untuk mengakui bahwa pekerjaan itu tidak harus menjadi PNS,” katanya. (ajie mh)

Editor: Ismu Puruhito

Ajie MH.