in

Film Krakatoa: The Last Days, Saksi Mata Letusan Paling Bising dalam Sejarah

SEMARANG (jatengtoday.com) – Film berjudul “Krakatoa: The Last Days” atau “Krakatau Hari-hari Terakhir” diproduksi British Broadcasting Corporation (BBC) disutradarai oleh Sam Miller dan dirilis tahun 2006.

Film yang mengisahkan sejumlah saksi sejarah yang selamat dari meletusnya Gunung Krakatau pada 1883 ini kembali mencuri perhatian publik. Perjuangan panjang masyarakat yang tinggal di sekitar Gunung Krakatau agar bisa selamat dari ganasnya gas mematikan. Selebihnya tidak bisa berbuat banyak, hanyut bersama gelombang tsunami yang maha dahsyat.

Gunung berapi yang terletak di Selat Sunda antara Pulau Jawa dan Sumatera ini mengakibatkan gempa, tsunami, hujan abu dan gelombang panas yang menggelapkan planet ini.

Ini kembali diingat menyusul tragedi Tsunami di Tanjung Lesung, Pantai Anyer, Banten, dan Lampung, pada Sabtu, 22 Desember 2018. Hal yang tidak disadari, Anak Gunung Krakatau kembali terbangun dari tidur panjang.

Banyak orang kembali mencari dan menonton film berdurasi kurang lebih 1:27:21 ini. Meski banyak kontroversi mengenai akurasi data dan fakta, namun film “Krakatoa: The Last Days” ini setidaknya mampu mengajak orang berpikir dan berimajinasi. Film ini menyajikan kilas kehidupan zaman kolonial yang dikemas secara menarik.

Sangat disayangkan, gagasan film sejarah penting mengenai Krakatau ini digarap dan disutradarai oleh orang asing. Mungkin, sutradara film Indonesia saat itu sedang sibuk menggarap film bertema cinta.

Film drama dokumenter tersebut dimulai dengan narasi 26 Agustus 1883. Pulau Gunung Api Kecil Krakatau meletus hebat. Hari itu menjadi salah satu bencana alam terbesar dalam sejarah. Kurang dari 48 jam, gunung itu menghancurkan ratusan kota dan desa, serta menewaskan lebih dari 36.000 orang.

Mereka yang hidup dan selamat dari letusan maut itu meninggalkan catatan harian. Ahli geologi, Rogier Verbeek, adalah salah satu ilmuwan yang menjadi saksi letusannya. Ia juga mengumpulkan berbagai kisah saksi mata yang selamat dalam letusan Krakatau. Film ini didasari catatan-catatan itu.

Digambarkan, kisah seorang pelaut yang hidup dari letusan melaporkan cahaya aneh. Gas-gas dan abu bercampur menghasilkan letupan listrik. Kilatnya berbahaya. Tapi abunya jauh lebih berbahaya. “Abu setinggi kaki saja membuat kapal oleng,”

Setelah 20 jam terus-menerus meletus, dapur magma Krakatau kosong, dengan ruang kosong, gunung mulai runtuh. Ledakan yang ditimbulkan amat besar hingga terdengar 3000 mil di Australia. Suara paling bising dalam sejarah. Jutaan ton abu dan batu apung bertumpah ke laut yang memicu tsunami dan lebih menghancurkan daripada apa yang terjadi sebelumnya.

Ombak setinggi lebih dari 40 meter. Mengangkat mercusuar dari pondasinya. Menghancurkan seluruh garis pantai, kota-kota dan desa. Tak ada yang dapat mereka lakukan. Ribuan orang tewas. Apa yang tidak mereka ketahui waktu itu adalah bahwa gunung punya senjata terakhir yang mengerikan. Gunung runtuh melepas hembusan longsor, abu, dan batu terakhir. Di mana akan terlihat gunung bertemu air, berjalan bagai gumpalan uap.

Abu, gas, dan batu memanaskan hingga lebih dari 500 derajat celcius, merambah sepanjang laut menuju pulau-pulau di Sumatera Selatan.

Karya Rogier Verbeek tentang Krakatau juga menjadi dasar vulkanologi modern. Yang memberi ilmuwan catatan rinci saksi mata dari seluruh siklus letusan untuk pertama kali dalam sejarah. Letusan itu memiliki dampak sangat jauh. 20 juta ton belerang dilepas ke atmosfer yang menyebabkan pandangan senja luar biasa di seluruh planet.

Bahkan hingga menurunkan suhu global hingga abad 20. Krakatau itu sendiri nyaris tak tersisa apa-apa. Batu keras 12 mil persegi telah lenyap di udara dalam 40 jam. Gunung secara harfiah telah meledakkan dirinya hingga hancur. Tapi pada 1927, 300 meter di bawah Selat Sunda, gunung itu meletus lagi.

Seperti yang diramalkan Verbeek dalam tulisannya. Gunung baru akan terbentuk dengan kecepatan 5 meter pertahun. Orang Indonesia menyebut ini Anak Krakatau. Kini jutaan orang hidup dalam pandangannya, dan masih terus tumbuh.

“Filmnya bagus banget, ngeri juga ya Allah, yang nonton Desember 2018 mana suaranya?,” kata Ayuk Okvaniasa, salah satu dari penonton di beranda YouTube.

Penonton lain, Riski Dwi Abrianto juga menyampaikan ketakjubannya mengenai film dan tragedi 1883 itu. “Ledakan mahadahsyatnya menyebabkan perubahan iklim global dunia selama bertahun-tahun. Masyaallah,” katanya. 

“Ya, Allah jangan sampai terjadi lagi di bumi indonesiaku ini, Aamiin,” imbuh Jeky Anggara. (*)

editor : ricky fitriyanto