in

Rayakan 60 Tahun Berkarya, Maestro Tari Yoyok Bambang Priyambodo Gelar Seblak Sampur IX di Semarang

SEMARANG (jatengtoday.com) – Maestro tari tradisional dan kontemporer Indonesia, Yoyok Bambang Priyambodo, merayakan perjalanan panjangnya di dunia seni dengan cara yang khas. Tepat di usia ke-60 tahun pada 25 April 2026, ia memilih mengekspresikan refleksi hidupnya melalui gerak tari bersama ratusan murid dan alumni dalam gelaran Seblak Sampur IX di Sanggar Tari Greget, Semarang.

Tak seperti perayaan ulang tahun pada umumnya, momen ini justru menjadi ruang spiritual dan artistik bagi Yoyok. Kegiatan tersebut sekaligus menandai 35 tahun berdirinya Sanggar Tari Greget yang ia dirikan sebagai kelanjutan dari tradisi keluarga, bermula dari Sanggar Kusuma Budaya pada 1972 hingga berkembang menjadi Greget sejak 1992.

Sejak kecil di era 1970-an, Yoyok telah dikenal sebagai penari cilik berbakat. Perjalanan seninya terus berkembang hingga menimba ilmu di lingkungan Keraton Surakarta, menjadikannya salah satu figur penting dalam pelestarian tari Jawa.

Dalam tradisi Seblak Sampur, sekitar 200 penari dari berbagai generasi berkumpul dan menari bersama dengan selendang sebagai simbol kebersamaan dan “manghayu bagya”. Kegiatan ini juga menjadi ajang silaturahmi antara murid aktif dan alumni sanggar yang tersebar di berbagai daerah.

Mengusung tema “Langen Matoyo”, perhelatan tahun ini terasa istimewa karena dipersembahkan khusus untuk merayakan dedikasi panjang sang maestro. Tak hanya pertunjukan tari, Yoyok juga menginisiasi sarasehan bertema dinamika sanggar tari masa kini yang menghadirkan pemangku kepentingan, praktisi seni, hingga akademisi seperti Srihadi.

Dalam forum tersebut, Yoyok menekankan pentingnya dukungan pemerintah dalam menjaga keberlangsungan seni budaya, khususnya tari. Ia berharap adanya kebijakan yang lebih berpihak pada pelaku seni, termasuk kemudahan akses terhadap ruang pertunjukan.

“Panggung dan gedung pertunjukan sebenarnya sudah banyak, tetapi belum sepenuhnya bisa diakses oleh seniman tari karena masih terkendala birokrasi dan sistem yang transaksional,” ujarnya.

Melalui rangkaian kegiatan ini, Yoyok ingin mendorong lahirnya semangat baru dalam pelestarian seni tari di Jawa Tengah. Ia juga menegaskan bahwa sanggar tari memiliki peran penting dalam pendidikan karakter sekaligus menjaga identitas budaya bangsa.

Bagi Yoyok dan para pelaku seni lainnya, pelestarian budaya bukan sekadar menjaga tradisi, melainkan memastikan seni tetap hidup, berkembang, dan berdaulat di negeri sendiri. (*)