in

Unwahas Bentuk Tim untuk Lacak Karya Ulama Nusantara

Islam Nusantara telah berkontribusi dalam membangun peradaban dunia.

Rektor Unwahas Prof. Dr. KH. Mudzakkir Ali, MA sedang foto bersama pejabat Unwahas dan narasumber semninar nasional. (istimewa)
Rektor Unwahas Prof. Dr. KH. Mudzakkir Ali, MA sedang foto bersama pejabat Unwahas dan narasumber semninar nasional. (istimewa)

SEMARANG (jatengtoday.com) — Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang telah membentuk tim untuk melacak karya-karya ulama Nusantara.

Pernyataan itu disampaikan Rektor Unwahas Prof. Dr. KH. Mudzakkir Ali, MA pada Seminar Nasional bertajuk “Ajaran Adiluhung Islam Nusantara dalam Membangun Peradaban Dunia” pada Rabu (10/1/2024) lalu.

Menurut Prof Mudzakkir, Islam Nusantara dalam berbagai bentuknya, baik nilai maupun paradigma, telah berkontribusi dalam membangun peradaban dunia.

Karena itulah Guru Besar Bidang Pendidikan Agama Islam itu memandang perlunya pelacakan karya ulama Nusantara.

“Karena mahasiswa program magister dan doktor Unwahas sudah banyak, termasuk karya tentang ulama Nusantara, sudah saatnya Unwahas bisa menjadi kiblat atau rujukan kajian atas karya-karya ulama Nusantara,” imbuhnya.

Mudzakkir berpesan kepada mahasiswa untuk menghimpun dan merawat karya ulama Nusantara. Sebab, ulama menuntut umat untuk beragama versi Islam Nusantara yang telah berperan membangun peradaban dunia.

Direktur Program Pascasarjana Unwahas Prof. Dr. H. Mahmutarom, HR., SH, MH., jika berkaca pada sejarah, Islam pernah berkuasa di wilayah Eropa. Namun penguasaan itu menyimpan memori tentang wajah Islam yang berujung pada Islamofobia.

Yang menarik, lanjutnya, Islam yang dibawa oleh Walisongo ke Nusantara itu menyebar tanpa penjajahan ataupun penaklukan. Bagaimana proses akulturasi budaya terjadi, itulah yang perlu dikaji.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2010–2021, Prof. Said Aqil Siroj menegaskan bahwa Islam tidak hanya tentang akidah dan syariat saja, tetapi juga mencakup dimensi kebudayaan dan peradaban.

Kata Kiai Said, Islam ditopang oleh banyak peradaban. Dialog dengan berbagai kebudayaan menjadi penting untuk membangun Islam.

Kehadiran para ulama ke Nusantara bertujuan membangun karakter, akhlak, tidak hanya menyebarkan doktrin saja. “Sunan Kudus melarang menyembelih sapi untuk kurban. Beliau sangat menjauhi konflik, menghormati budaya sebelumnya,” terang Kiai Said.

Kiai Said optimistis Islam Nusantara sebagai sebuah karakteristik bisa menjadi jalan keluar dari krisis berpikir dan menghindarkan umat dari cara berpikir ekstrem. (*)

editor : tri wuryono 

Baihaqi Annizar