in

Undip Gelar Sidang Kode Etik untuk Mahasiswa yang Campurkan Sperma ke Makanan

Dody Prasetyo terbukti bersalah melakukan tindak pidana kesusilaan.

Oknum dokter Dody Prasetyo (berbaju batik) saat menjalani sidang tuntutan kasus kesusilaan di PN Semarang. (baihaqi/jatengtoday.com)

SEMARANG (jatengtoday.com) — Universitas Diponegoro (Undip) Semarang menggelar sidang pelanggaran kode etik yang dilakukan Dody Prasetyo, seorang mahasiswa Pendidikan Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik di kampus tersebut.

“Undip telah menggelar sidang. Tim pemeriksa sudah membuat laporan dan rekomendasi penjatuhan sanksi bagi yang bersangkutan,” tegas Kepala Kantor Hukum Undip, Sukinta saat dikonfirmasi, Kamis (27/1/2022).

Sukinta belum menjelaskan secara rinci apa rekomendasi sanksi untuk Dody Prasetyo. Namun, Undip mengaku prihatin karena salah satu mahasiswanya terbukti melakukan perbuatan asusila.

Baca Juga: Dokter yang Campurkan Sperma ke Makanan Divonis 6 Bulan Penjara

“Undip sebagai institusi pendidikan, sangat prihatin dan menyayangkan atas kasus tersebut,” ungkap Sukinta.

Perlu diketahui, Dody Prasetya merupakan oknum dokter sekaligus mahasiswa yang melakukan onani di tempat terbuka dan mencampurkan spermanya ke makanan orang lain. Perbuatan tersebut membuat korban trauma dan jijik.

Pada Rabu (26/1/2022) kemarin, majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Semarang menyatakan terdakwa Dody Prasetyo terbukti bersalah melakukan tindak pidana kesusilaan sesuai Pasal 281 KUHP.

“Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa dengan pidana penjara selama 6 bulan,” ucap Hakim Ketua Gatot Sarwadi dalam amar putusan putusannya.

Perkara tindak pidana asusila tersebut belum berkekuatan hukum tetap. Sebab, baik jaksa penuntut umum Kejati Jateng maupun penasihat hukum terdakwa sama-sama menyatakan untuk pikir-pikir atas putusan majelis hakim.

Sebelumnya, pendamping korban dari LRC-KJHAM sempat mengkritik perguruan tinggi tempat Dody Prasetyo berkuliah karena tak kunjung mengambil sikap meski mahasiswanya sudah ditetapkan sebagai tersangka. (*)

editor : tri wuryono

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.