in

Soal Longsor di Bukit Manyaran Gunungpati, Dinas ESDM Jateng Minta Drainase Ditata Lagi

SEMARANG (jatengtoday.com) – Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jateng memberikan rekomendasi mitigasi bencana tanah longsor yang terjadi di Perumahan Bukit Manyaran Permai (BMP), Gunungpati, Kota Semarang, akhir Februari 2021 kemarin.

Sebelum memberikan rekomendasi mitigasi bencana tanah longsor di Bukit Manyaran Semarang tersebut, Dinas ESDM Jateng telah melakukan survei dan melakukan kajian.

“Hasil survei dan kajian dilihat dari geologi lapisan tanahnya, termasuk kerentanan. Daerah sini kerentanan gerakan tanahnya menengah sampai tinggi,” kata Kepala Bidang Geologi dan Air Tanah Dinas ESDM Jateng, Heru Sugiharto, belum lama ini.

Baca juga: Bank Jateng Beri Bantuan Relokasi Rumah Terdampak Longsor di Kebumen

Pihaknya menekankan, drainase atau pola aliran air juga mesti ditata. Jika itu tidak ada, maka upaya yang sudah dilakukan akan percuma.

Sebab, air akan masuk lagi ke tanah dan akan membebaninya lagi, sehingga akan membentuk tanah menjadi lumpur yang mengembang lagi.

“Makanya harus secara menyeluruh, baik drainase untuk saluran air hujan maupun rumah tangga jangan sampai dialirkan ke lereng tersebut. Buatkan saluran biar dialirkan ke samping dan masuk ke saluran drainase utama,” tambahnya.

Baca juga: Longsor di Manyaran Terus Mengancam, Saat Hujan Lebat Warga Tak Berani Tidur

Dari kajian geologi longsor, diketahui lokasi itu berada di formasi Damar dan formasi Kalibeng. Formasi Kalibeng terdiri atas lempung.

Di atas lempung ada formasi Damar yang berisi batu pasir tufaan dan breksi. Daerah Bukit Manyaran Permai ternyata berada di antara dua formasi dan lebih berat ke formasi Kalibeng, di mana kondisi tanahnya napal lempung.

“Lempungnya bukan sembarang lempung, karena warnanya abu-abu kecokelatan. Lempung ini jenisnya lebih ke arah monmorilonit. Artinya, kalau kena air dia akan mengembang, kalau kering dia akan menyusut merekah. Kalau untuk kondisi bangunan kurang bagus,” paparnya.

Baca juga: Longsor di Perum Bukit Manyaran Permai, Warga Kerap Dengar Suara Gemuruh

Mitigasi Dimulai dari Titik Longsor Awal

Dengan kondisi geologi semacam itu, cara mengatasinya harus dilakukan mulai dari titik longsor awal mahkota longsor sampai ke bawah lidah longsor.

Sebab, tanah yang melorot atau ada rekahan bentuknya acak, serta jenis lempungnya berupa monmorilonit atau lebih ke illit, mengakibatkan lempung menjadi lembek seperti bubur kalau kena air.

Mineral lempung jenis monmorilonit mempunyai sifat yang mudah mengembang apabila terkena air, sehingga erat kaitanya dengan kemampuan kembang susut batuan.

Baca juga: Tanah Longsor di Gunungpati, Delapan Rumah Roboh

“Sehingga penanganannya harus secara menyeluruh sampai ke bawah lereng, di mana di dataran setelah lereng itu datarannya sudah stabil atau tidak ada rekahan lagi,” jelasnya.

“Di akhir lereng setelah itu dataran. Dataran itu sudah dilihat dan disurvei kondisinya bagus. Yaitu tidak ada rekahan, tidak ada sifat pengguguran. Tanahnya stabil, mantap, kompak,” imbuh Heru.

Baca juga: Cuaca Ekstrem di Semarang Diwarnai Tanah Longsor dan Rumah Roboh

Kondisi itu harus ditangani dengan mengurangi kemiringan lereng dengan metode terasering.

Selain itu dibuatkan penguatan, seperti bronjong atau pasangan batu semen dengan diberi lubang-lubang peniris untuk mengeluarkan air sehingga kondisi lerengannya menjadi stabil.

Hasil kajian yang rawan longsor sesuai geologi, litologi serta tanah yang dilakukan, akan disampaikan kepada Wali Kota Semarang. Termasuk, rekomendasi untuk penanganan bencana tanah longsor itu. (*)

editor : tri wuryono