in

Selamat Jalan Sang Maestro: Nasirun Pergi saat Pameran Belum Selesai

Maestro Seni Rupa Indonesia, Nasirun.

YOGYAKARTA (jatengtoday.com) – Nasirun, sang Maestro seni rupa Indonesia ini memang selalu tampil sederhana. Ia memiliki kegemaran menyapu daun-daun yang gugur di halaman rumahnya hampir setiap hari. Sesekali ia berhenti, menyapa tetangga, bercanda, lalu tertawa lepas.

Tak ada yang menyangka, Sabtu pagi (1/8/2026), Nasirun harus pergi jauh meninggalkan semua yang dicintainya. Tak ada yang curiga, karena Nasirun sebelumnya tampak sehat-sehat saja. Tidak ada wajah yang menyimpan rasa sakit. Tidak ada keluhan panjang. Bahkan, sebelumnya ia masih membicarakan rencana pameran seni rupa yang akan digelar beberapa bulan mendatang.

Sabtu dini hari, keadaan berubah. Sekitar pukul 02.00 WIB, ia sesak napas. Keluarganya segera membawanya ke Rumah Sakit AMC Muhammadiyah Yogyakarta.

“Meninggalnya pukul 05.50 WIB. Nasirun meninggal di usia 60 tahun akibat henti jantung,” kata Bimo Aditya, tetangga Nasirun.

Bagi Bimo, kepergian itu terasa begitu sulit dipercaya. Baru sehari sebelumnya mereka masih mengobrol.

“Nggak ada riwayat penyakit yang kami tahu. Kemarin sore masih ngobrol sama saya. Memang sempat mengeluh dada sakit dan asam lambung, tapi selama ini ya sehat-sehat saja. Dadakan saja,” katanya.

Rumah yang biasanya menjadi tempat berkumpul para seniman berubah menjadi rumah duka. Orang-orang berdatangan, bukan untuk berdiskusi tentang lukisan atau pameran, melainkan mengantar kepergian seorang sahabat.

Para seniman yang datang ke rumah duka tampak memberi penghormatan terakhir kepada sang begawan kelahiran Cilacap, 1 Oktober 1965 itu. Mereka tampak berdiri memandangi rumah yang selama bertahun-tahun menjadi tempat berbagi gagasan, tertawa, dan merancang berbagai pameran.

Rekan sejawat, Jumaldi Alfi Chaniago, pun mengaku sangat terkejut atas peristiwa ini. Dua hari sebelumnya, Alfi dan Nasirun sempat menghadiri pameran seni bersama. Bahkan keduanya berencana menggelar rapat pada Sabtu pukul 09.00 WIB di rumah Nasirun.

“Rencananya kami akan membahas persiapan pre-event pameran di OHD Museum, Magelang, pada bulan Oktober atau November 2026,” katanya.

Ternyata situasi berubah, meja rapat berubah menjadi tempat para pelayat duduk bersisian. “Selama puluhan tahun bersahabat, saya tak pernah mendengar Nasirun sakit. Bahkan kepada keluarga pun tidak pernah mengeluh,” katanya.

Selama hampir tiga dekade mengenal Nasirun, Alfi mengatakan hanya sekali melihat sahabatnya tidak tersenyum. Bukan saat menghadapi kritik atau mengalami kesulitan hidup. Melainkan ketika menjalani operasi hemoroid.

“Itu satu-satunya hari saya melihat dia tidak tertawa. Besoknya setelah operasi, dia sudah tertawa lagi sambil ke mana-mana membawa bantal,” kenangnya.

Baginya, hidup terlalu singkat untuk dijalani dengan kemarahan. “Beliau itu orang yang dipuji tidak menjadi besar kepala, dimaki juga tidak sakit hati. Orang yang dihajar habis-habisan, balasannya cuma tertawa.”

Kerendahan hati itulah yang membuat namanya begitu dicintai. Di dunia seni rupa Indonesia, Nasirun adalah maestro. Karya-karyanya dipamerkan di berbagai negara dan menjadi koleksi hingga Asia Tenggara, Eropa, serta Amerika Utara. Namun, bagi warga sekitar, ia tetap tetangga yang mudah ditemui.

Bagi para seniman muda, Nasirun adalah senior yang tidak pernah menjaga jarak. Bahkan undangan sekecil apa pun selalu diusahakan hadir.

“Pameran tingkat RT antar-gang saja dia mau datang. Kalau diminta membuka acara di atas gunung pun dia akan datang. Buat dia, setiap undangan adalah bentuk penghormatan yang harus dituntaskan,” kata Alfi.

Perjalanan Nasirun sendiri bukanlah perjalanan yang sederhana. Dulunya, dia memiliki nama kecil Masyhuri. Karena sering sakit-sakitan, orang tuanya mengubahnya menjadi Nasirun yang diartikan “tertolong”.

Ia kemudian merantau ke Yogyakarta, belajar di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), yang kini menjadi Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Di tanah Mataram itulah Nasirun malang melintang melewati berbagai proses untuk tumbuh.

Lukisan-lukisannya dikenal melalui sapuan ekspresif, simbol-simbol budaya Jawa, kaligrafi, dan dunia spiritual yang khas. Ia menjelma menjadi salah satu figur paling penting dalam seni rupa kontemporer Indonesia.

Pameran bertajuk Arundhati di Pendhapa Art Space, Sewon, Bantul, Yogyakarta menjadi pameran terakhir. Hingga saat ia meninggal, pameran tersebut masih berlangsung. Pameran tersebut, Nasirun berkolaborasi dengan maestro pematung Dunadi. Selain itu, kanvas-kanvas yang belum selesai, rencana-rencana pameran, dan berbagai mimpi yang masih ingin diwujudkan harus berhenti sementara sebelum ada yang meneruskan. (*)