in

Sejak 1975, Bus Legendaris ini Trayeknya Antar Kuburan

Perusahaan transportasi massal di Kota Semarang ini terbilang unik. Bagaimana tidak, bus ini memilih trayek antar kuburan. Wah, horor ya, hehe…

Enggak horor kok. Hanya saja aneh memang. Pasalnya, bus ini menjadi transportasi massal khusus melayani pelayat untuk mengantarkan jenazah di Kota Semarang dan sekitarnya.

Namanya Bus Perak. Istilah Bus Perak dikenal karena bus ini dikelolan perusahaan transportasi PO Perak Jaya. Saat ini berkantor di di Jalan Dr Cipto Semarang. Muncul sejak 1975 silam, hingga sekarang masih tetap beroperasi.

Pada tahun 1980-an, bus ini sempat melegenda di tengah masyarakat. Sebab, bus ini kerap membantu masyarakat yang sedang tertimpa musibah lelayu. Bus Perak ini menjadi legendaris karena menjadi satu-satunya bus carteran yang konsisten melayani para pelayat mengiring jenazah menuju persemayaman terakhir alias kuburan.

Dulu, bus ini hingga memiliki banyak armada. Tetapi sekarang hanya tersisa beberapa armada karena termakan usia. Sedangkan bisnis transportasi telah berkembang pesat. Mulai muncul angkutan kota, taksi, Bus Rapid Transit (BRT), hingga ramainya transportasi berbasis aplikasi online.

Hal itu membuat Bus Perak ini tak berdaya. Tetapi keberadaan bus ini tetap saja memiliki pangsa pasar tersendiri. Meski tidak setenar dahulu. “Puncak kejayaannya di era 1980-an, karena menjadi pemain tunggal di sektor jasa bus lelayu di Jawa Tengah. Para sopirnya yang lama telah meninggal, beberapa yang lain telah berusia senja,” kata salah satu sopir bus perak, Nur Arif, yang merupakan generasi penerus.

Dikatakannya, bus ini saat masih jaya, hampir kuwalahan melayani order carteran. Orang meninggal hampir setiap hari ada. Selain memiliki wilayah edar di Kota Semarang, juga melayani luar kota di Jawa Tengah. “Setiap bus berkapasitas 50 kursi. Pertama kali beroperasi pada 1975. Sampai sekarang konsisten khusus melayani rombongan pelayat,” kata sopir yang telah bekerja selama 30 tahun ini.

Bus legendaris itu merupakan miliki pengusaha transportasi bernama Hendro Wibawa. Dulu, para sopir bus ini rata-rata adalah pensiunan tentara. “Daripada menganggur, mereka bekerja sebagai sopir,” imbuhnya.

Lambat laun, pamor bus perak ini kian meredup. Apalagi ketika transportasi perkotaan menjamur mengakibatkan keberadaan bus perak tenggelam. “Saat ini orderan sepi. Sekali berangkat tarifnya Rp 450 ribu. Dalam seminggu biasanya hanya berangkat dua kali,” katanya.

Perawatan bus kuno ini juga terbilang sulit. Sebab, suku cadang asli bus ini tidak dijual bebas di Indonesia. Bus saat ini sudah mengalami perbaikan beberapa kali. Mesin yang digunakan saat ini adalah mesin keluaran 1987-1988. Sudah tidak dijual di pasaran.

Bus ini seringkali pulang pergi mengantar pelayat. Misalnya ke pemakaman Cina Kedungmundu, TPU Trunojoyo, Karangroto, Bergota dan lain-lain. Arif sendiri merupakan sopir abadi yang telah ikhlas mengabdikan diri entah sampai kapan. Meski upah yang diterimanya hanya Rp 60 ribu setiap kali berangkat mengantar rombongan pelayat. (Abdul Mughis)

Editor: Ismu Puruhito