in

Rumah Pawang Ular Direhab Total, Begini Kondisinya

SEMARANG (jatengtoday.com) – Rumah keluarga Hadi Prayitno atau yang lebih dikenal dengan Pak Ulo (pawang ular) di Dusun Pateran RT 34 RW VII, Desa Plumbon, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang, menjadi sasaran program bedah rumah.

Bedah rumah dilakukan bersamaan dengan Pencanangan Bulan Bakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM) XVI dan Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK ke-47, tingkat Provinsi Jawa Tengah.

Rumah milik pawang ular tersebut mendapatkan bantuan karena kondisinya cukup memprihatinkan. Menurut Pak Ulo, di musim hujan seperti ini, banyak bagian atap rumahnya yang bocor. Sehingga ia harus mengakalinya dengan berbagai macam cara.

“Kalau hujan crocoh (bocor). Pas mau tidur, kalau hujan ya pindah sana, pindah sini, biar nggak kecrocohan,” ujarnya, Selasa (9/4/2019).

Pak Ulo sehari-hari tinggal bersama anak dan istrinya. Anaknya ada tiga, tapi hanya satu yang masih tinggal bersamanya, lainnya sudah berkeluarga.

Sang istri bekerja sebagai penjual sayuran di pasar. Sedangkan Pak Ulo sendiri adalah juru pijat. Disamping ia juga gemar bergelut dengan dunia reptil dengan cara memelihara dan jual beli ular. Namun, penghasilan dari pekerjaan tersebut terbilang sangat minim, hanya cukup untuk makan sehari-hari.

Sehingga, keluarga Pak Ulo sangat bersyukur rumahnya diberi bantuan untuk direnovasi.

Di samping itu, Ketua RW setempat, Lutfi Syahbudin menjelaskan, rumah warganya tersebut memang masuk dalam kategori Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Karena itu, ia mendapat bantuan sebesar Rp 10 juta. Tapi bantuan itu tidak dalam bentuk uang, melainkan sudah berbentuk material.

“Nanti pengerjaannya adalah murni swadaya masyarakat. Termasuk kalau ternyata kurangnya masih banyak, kurangnya apa, nanti kami masyarakat sini yang mengusahakannya bareng-bareng. Entah dengan cara apa, yang penting gotong royong,” bebernya.

Lutfi juga menyatakan, rumah Pak Ulo ini sebenarnya sudah dibedah pada program tahun lalu. Namun, karena ada kendala dalam masalah pembagian tanah waris, akhirnya dialihkan untuk rumah lainnya. Dan akhirnya baru terealisasi pada tahun ini.

Pihaknya memang cukup selektif dalam menjalankan program pengentasan kemiskinan dalam bentuk bedah rumah. “Kami sudah mencanangkan secara serius, mana yang harus diprioritaskan terlebih dahulu. Dan kami melihat, Pak Ulo ini memang yang lebih membutuhkan,” tandasnya.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Desa, Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispermades Dukcapil) Jateng, Sugeng Riyanto menambahkan, bedah rumah ini merupakan program dari Pemprov Jateng.

Setiap tahun, katanya, per desa memang mendapat bantuan bedah rumah sebanyak 3 unit rumah, dengan besaran masing-masing sebanyak Rp 10 juta. Dan kali ini, bedah rumah dibarengkan dengan agenda Pemrov yang notabene temanya sama, yakni gotong royong. (*)

editor : ricky fitriyanto

Baihaqi Annizar