in

Rembang Dirintis Jadi Kota Fesyen

SEMARANG (jatengtoday.com) – Kabupaten Rembang dirintis menjadi Kota Fesyen. Obsesi ini berangkat dari popularitas batik Lasem yang sudah mendunia.

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jateng, Ema Rachmawati menuturkan, Lasem sudah terkenal dengan batik berciri Tionghoa sejak abad 15. Ketenarannya sudah didengar hingga luar negeri. Dalam beberapa pameran, produk Lasem yang berciri warna merah darah ayam atau Batik Tiga Negeri selalu diburu.

“Sayang, selama ini batik Lasem selalu dalam bentuk lembaran. Produk fesyen (pakaian jadi) selalu ditanyakan konsumen, tapi tidak ada. Padahal setiap pameran batik harga Rp 7-8 juta laku. Apalagi dengan batik Lasem yang sudah bagus,” ujarnya, saat gelar wicara UKM Virtual Expo II, Kamis (19/11/2020).

Untuk mewujudkan Rembang Kota Fashion, pihaknya kemudian memberikan berbagai pelatihan. Mulai dari mendesain hingga pembuatan pola bagi penjahit.

Hal itu diakui Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Rembang Ahsanudin. Dia menyebut, proses mewujudkan Rembang Kota Fesyen tidaklah mudah. Perlu sinergi antar elemen untuk mewujudkannya.

“Tahun 2023 paling tidak, setelah kita sepakati grand design untuk mewujudkan cita-cita itu. Kami didukung Pemprov Jateng dalam memberikan pelatihan,” jelasnya.

Dikatakan, beberapa pelatihan digelar untuk mengembangkan motif dan kreatifitas para pekerja batik. Mulai dari desain, latihan pola untuk penjahit hingga pemasaran.

“Kita garap juga business hub nya adalah koperasi. Kita juga dibantu dari Lembaga Gerak Pemberdayaan,” imbuhnya.

Ketua Koperasi Batik Lasem Afif Arwani mengatakan, selama ini produk dari kota ini lebih sering dijual lembaran. Tapi kalau dijual dalam produk jadi harganya bisa berlipat.

“Misalnya yang lembaran ada yang harganya Rp 250 ribu, kalau dijual dalam bentuk pakaian bisa jadi Rp 500 ribu. Yang motif tiga negeri harga lembarannya Rp 2 juta, bisa jadi Rp 5 juta atau lebih,” ungkapnya.

Dia berharap, ikhtiar untuk membuat Rembang sebagai ikon fesyen batik khas Lasem dapat terwujud. Tapi, Afif menyadari, hal itu perlu sinergi dari berbagai pihak. (akr)

editor: ricky fitriyanto

UKM-Virtual-Expo-II