in

Rata-rata Peneliti Jateng masih Berorientasi Hal Teknis

SEMARANG (jatengtoday.com) – Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappeda) Jateng, Sujarwanto Dwiatmoko menjelaskan, pihaknya telah memfasiltiasi para peneliti untuk menuangkan pikiran-pikiran mereka.

Terutama terkait tujuh isu strategis di Jateng. Yakni kemiskinan, daya saing ekonomi, pengembangan sumber daya manusia, kedaulatan pangan dan energi, infrastruktur dan pengembangan wilayah, pembangunan demokrasi dan tata kelola pemerintahan, dan ekonomi kreatif pariwisata.

Terhitung ada 121 peneliti yang telah dikumpulkan untuk membahas tujuh isu strategis tersebut. “Besok, (Kamis, Red) mereka (akademisi) kami kumpulkan di ruangan-ruangan, sesuai isu yang akan dibahas. Mereka akan diarahkan menulis sembarang, sesuai minat pemikiran,” jelasnya, Rabu (25/7).

Hasil tulisan dan diskusi mereka akan dibahas bersama akademisi. Dipilah, mana yang bisa diterapkan, mana yang perlu dicoba, dan lain sebagainya. “Nanti akan diekstraksi. Jika ada karya yang inovatif, akan diangkat menjadi rumusan kebijakan, pembangunan, regulasi dan sebagainya,” tuturnya.

Nantinya, yang bisa diterapkan akan disisipkan dalam RPJMD 2019. Memang, saat ini RMPJD sedang dibahas. Karena itu, ide-ide dari peneliti ini bisa disisipkan. “Pendapat publik ada yang instanly (sederhana) dapat dimanfaatkan. Artinya untuk menajamkan. RPMJD-nya ditetapkan 2019. Isinya, masih proses diskusi, masih dalam pembahasan. Kan doknya (ketuk palu) bulan Desember. Jadi yang dibicarakan ini ada pada tataran policy, implementasi,” bebernya

Jarwanto membeberkan kebanyakan akademisi yang hadir dalam seminar masih menulis tentang fisik ekonomi berkaitan kemiskinan daya saing, dan infrastruktur. “Rupanya peneliti kita masih terorientasi pada hal-hal teknis. Padahal mendesain perilaku, budaya, hal-hal sifat manusia tidak banyak orang tulis,” ucapnya.

Dijelaskan, gelaran ini merupakan tahun kedua. Tahun ini masuk di tingkat regional, sementara tahun depan akan naik ke nasional dan nantinya bisa tingkat internasional. (ajie mh)

editor: ricky fitriyanto