in

Dorong Pembangunan Rendah Karbon, Bappeda Jateng Gandeng Undip Gelar Seminar Nasional

SEMARANG (jatengtoday.com) – Bappeda Jateng menggandeng Undip Semarang berencana menggelar seminar nasional bertema ‘Pembangunan Rendah Karbon Dalam Mendukung Peningkatan Kualitas Lingkungan Hidup’ di Hotel Kresna, Jalan Pasukan Ronggolawe 30, Wonosobo, Kamis-Jumat, 19-20 September 2019 mendatang.

Seminar ini merupakan tindak lanjut dari penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Pemprov Jateng dengan Bappenas RI terkait Pembangunan Rendah Karbon. MoU tersebut diteken saat Musrenbang dan Konsultasi Publik RKPD Jateng tahun 2020 yang digelar di Kabupaten Karanganyar, 14 Februari 2019 silam. MoU diharapkan sebagai upaya penguatan implementasi rencana pembangunan yang mempertahankan pertumbuhan ekonomi, mengurangi kemiskinan, dan membantu pencapaian target pembangunan di berbagai sektor, serta membantu penanganan perubahan iklim, melestarikan dan meningkatkan sumber daya alam.

Berdasarkan pengukuran kualitas udara ambien yang dilakukan tahun 2013 dan 2014, nilai hidrokarbon di semua titik sampel telah melebihi baku mutu. Jumlah hidrokarbon yang sudah melebihi baku mutu disebabkan banyaknya kendaraan bermotor yang menggunakan premium dan solar. Sampel dilakukan di 35 kabupaten/kota, dengan tiga lokasi pengukuran, yakni kawasan perumahan, industri, dan kawasan padat lalu lintas.

Terkait upaya pembangunan rendah karbon seperti pengelolaan hutan, dirasa belum maksimal. Sebab, berbagai permasalahan masih terjadi seperti tekanan pemanfaatan kawasan hutan. Seperti, pencurian, kebakaran hutan, hingga kurang terpenuhinya kebutuhan hasil hutan berasal dari pengelolaan hutan berkelanjutan dan pengelolaan hutan negara belum mampu memenuhi standar pengelolaan hutan lestari.

Selain itu, peningkatan jumlah penduduk yang berdampak pada peningkatan jumlah timbunan sampah. Jika melihat dari sisi pelayanan persampahan secara total, tingkat pelayanannya masih rendah yaitu masih di bawah 30 persen. Sedangkan dari sejumlah 58 TPA yang ada di Jateng, rata-rata telah melebihi usia pakai. Hanya 22 persen TPA menggunakan sistem controlled landfill dan sisanya masih menggunakan sistem open dumping.

Selain itu, isu lingkungan lainnya adalah masih maraknya kegiatan pertambangan tanpa izin (PETI) yang berpotensi merusak lahan. Kondisi ini didorong oleh meningkatnya kebutuhan material untuk pembangunan infrastruktur. Yaitu kebiasaan membuang sampah tidak pada tempatnya, pengelohan lahan yang kurang memperhatikan konservasi tanah dan air, serta kurangnya budaya hemat energi dan air.

Isu penting baik secara global, nasional, maupun regional khususnya terkait dengan isu perubahan iklim seperti bencana banjir, longsor dan kekeringan menuntut adanya pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan yang berkelanjutan.

Hal ini seiring dengan isu pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) yaitu 3 dari 17 tujuannya adalah penanganan perubahan iklim, pemeliharaan ekosistem laut dan pemeliharaan ekosistem darat.

Penurunan kuantitas dan kualitas cadangan air baku/air bersih di Jateng juga masih terjadi. Hal itu disebabkan karena banyak faktor. Seperti terganggunya kawasan tangkapan air/catchment area, pencemaran industri, eksploitasi air tanah oleh industri, dan pemanfaatan kawasan pesisir/mangrove untuk tambak. Kondisi ini menjadi ancaman bagi daya dukung dan daya tampung lingkungan.

Kerusakan sumber daya alam pesisir karena dampak fenomena alam pun tak terhindarkan. Terutama dari adanya abrasi dan sedimentasi. Akibatnya, ada kerusakan ekosistem mangrove karena beberapa varietas mangrove tidak bisa beradaptasi, konflik kewenangan pengelolaan kawasan pesisir (pusat, provinsi, kabupaten/kota), dan konflik sosial terkait pengkaplingan lahan tambak yang menyulitkan pengelolaan menjadi permasalahan lingkungan yang harus mendapatkan perhatian semua pihak termasik masyarakat.

Jateng merupakan daerah dengan risiko bencana yang cukup tinggi dilihat dari frekuensi kejadian bencana yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Kejadian bencana yang sering terjadi antara lain tanah longsor, banjir, rob, kebakaran hutan dan kekeringan yang disebabkan perubahan iklim global.

Seminar ini diharapkan mendapatkan rumusan yang bermanfaat bagi penguatan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi serta pengembangan kebijakan-strategi pembangunan terkait dengan aspek kelestarian lingkungan dan sumberdaya alam, khususnya di Jateng.

Seminar ini menjadi diseminasi hasil-hasil penelitian dan pengembangan serta perekayasaan dari seluruh kelembagaan kelitbangan. Baik negeri maupun swasta serta masyarakat Indonesia.

Mereka akan mempresentasikan hasil-hasil penelitian dengan sub-sub tema, yakni Antisipasi Dampak Perubahan Iklim, Pengelolaan Kawasan Pesisir Berwawasan Lingkungan, Inovasi Pengelolaan Sampah Terintegrasi, dan Pengembangan dan Penerapan Energi Baru Terbarukan

Harapannya, mampu memperkuat jejaring kelitbangan dalam rangka memperkaya rekomendasi hasil riset bagi pembangunan nasional dan daerah.

Hasil seminar ini diharapkan bisa menjadi masukan untuk menyusun kebijakan implementasi pembangunan rendah karbon di tingkat nasional dan daerah yang berbasis pada hasil riset.

Beberapa pembicara utama dijadwalkan akan hadir dalam seminar nasional yang akan dibuka Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo. Antara lain, Dirjen Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian LHK (Kebijakan dan Strategi Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca), Dirjen Pengelolaan Ruang Laut Kementerian KP (Kebijakan dan Stategi Penanganan Dampak Perubahan Iklim di Kawasan Pesisir), Dirjen Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM (Kebijakan dan Stategi Implementasi Pengunaan Energi Baru Terbarukan di Sektor Industri/UMKM dan Transportasi), dan Ketua Prodi Ilmu Lingkungan Undip (Inovasi Sistem Pengelolaan Limbah dan Sampah menuju Pembangunan Rendah Karbon).

Bagi yang ingin berpartisipasi dalam seminar nasional ini, bisa melakukan pendaftaran via online lewat laman cjc.bappeda.jatengprov.go.id. Sertakan abstrak dan biodata. Atau bisa menghubungi Bappeda Jateng di (024) 3515591, 3515592 pesawat 403, Rachman Djamal 08122819605, Tri Risandewi 08128567985, atau Hartuti Purnaweni (DIL Undip), HP 085642812812.

Pendaftaran ini tidak dipungut biaya. Semua peserta akan mendapatkan sertifikat, seminar kit dan konsumsi. Nantinya, makalah yang diterima akan dimuat dalam prosiding atau Jurnal Ilmu Lingkungan Undip dan Jurnal Litbang Bappeda (selected papers).

Batas akhir penerimaan abstrak, maksimal tanggal 20 Agustus 2019. Pengumuman hasil seleksi abstrak yang dapat dipresentasikan 2 September 2019. Batas waktu penerimaan makalah lengkap 12 September 2019. (BAP).

editor : ricky fitriyanto