in

PKL Agus Salim Boleh Kembali Berjualan, Asalkan Patuhi Aturan Ini

SEMARANG (jatengtoday.com) – Sebanyak 94 Pedagang Kaki Lima (PKL) di ruas Jalan KH Agus Salim, sepanjang eks Matahari Johar hingga Jembatan Berok sudah diperbolehkan kembali berjualan.

Para pedagang tersebut awalnya dirazia petugas Satpol PP, Dinas Perhubungan (Dishub), dan Satlantas Polrestabes Kota Semarang karena dianggap mengganggu arus lalu lintas di wilayah sekitar yang padat. Kondisi ini menyebabkan kendaraan selalu mengalami ketersendatan saat melintas.
PKL di Jalan KH Agus Salim sudah tidak berjualan sejak 26 Juli lalu. Mereka kembali diperbolehkan berjualan, efektif mulai Kamis (9/8).

Dinas Perdagangan memberikan izin bagi pedagang untuk berjualan. Hanya saja, syaratnya mereka diminta berjualan dengan menaati garis batas yang telah ditentukan Pemkot sepanjang 1,5 meter. Bila lapak PKL melewati garis maka akan langsung ditertibkan kembali oleh Satpol PP.
“Mereka sudah boleh kembali berjualan asalkan berada di belakang garis batas yang telah ada. Jika melanggar maka akan langsung ditertibkan Satpol PP,” kata Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Fajar Purwoto.

Fajar menerangkan, awalnya mereka ditertibkan karena dianggap memicu kemacetan. Namun, setelah dievaluasi ternyata mereka sebenarnya menggunakan sepadan jalan.

Keberadaan PKL Agus Salim awalnya dianggap mengganggu oleh pengendara yang melintas. Penyebabnya, keramaian yang ditimbulkan membuat arus lalu lintas tersendat.
“Namun setelah diurai permasalahannya, ternyata penyebab utama penyempitan ruas Jalan KH Agus Salim karena adanya parkir liar yang menggunakan bahu jalan,” terangnya.

Untuk itu, pihaknya meminta agar pedagang mengingatkan dan mengarahkan pengunjung untuk tidak parkir di bahu jalan. Pengunjung harus memarkir kendaraannya di lahan parkiran eks Matahari Johar agar tidak mengganggu arus lalu lintas.

Sementara itu, Koordinator Pedagang KH Agus Salim, Nuryanto, mengatakan, sebelumnya perwakilan pedagang menghadiri kegiatan sosialisasi penataan PKL di kantor Dinas Perdagangan Kota Semarang. Pada kesempatan itu, dia menyatakan selama ini pedagang tidak pernah melanggar aturan yang ditetapkan pemerintah.
“Kami memang diperbolehkan kembali berdagang di lokasi tersebut asalkan tidak mengganggu arus lalu lintas. Kami telah berusaha untuk menuruti aturan-aturan yang ditetapkan Pemkot,” ucapnya.

Nuryanto menyebut, selain pedagang harus berjualan di belakang garis batas, lapak dagangan juga diminta menghadap utara. Para PKL, lanjut dia, tetap akan menaati aturan baru yang dibuat Pemkot agar bisa kembali berjualan.
“Kami biasanya membuka lapak sejak pukul 08.00 hingga 17.00. Aturan garis batas tetap akan kami taati,” pungkasnya. (*)

editor : ricky fitriyanto