in

Penyakit Mulut dan Kuku Sudah Masuk Jateng

ilustrasi (pixabay)

SEMARANG (jatengtoday.com) – Penyakit mulut dan kuku yang merebak di Jatim, sudah ditemukan di Jateng.

Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Jateng, Agus Wariyanto, Kamis (12/5/2022).

Untuk menanganinya, Pemprov Jateng telah membentuk Unit Reaksi Cepat (URC). Tim ini bertugas  menangkal wabah yang tengah menjangkiti ribuan sapi di Jatim.

Baca Juga: Antisipasi Penyakit Mulut dan Kuku, Ganjar Instruksikan Siaga di Perbatasan

Dia menyebut, wilayah yang berbatasan dengan Jatim diawasi ketat. Jika ditemui hewan bergejala PMK, akan dilakukan penghentian dan pemulangan.

“Kita bentuk Unit Reaksi Cepat siang ini. Untuk memantau terkait lalu lintas ternak yang masuk di perbatasan. Tempo hari kita memulangkan dua truk hewan ternak dari Probolinggo (Jatim) yang hendak ke Tasikmalaya (Jabar) karena menunjukan gejala. Kita juga melakukan informasi dan edukasi, bahwa PMK ini bisa disembuhkan,” ujarnya.

Pada perbatasan Jateng-Jatim, terdapat beberapa pos pantau yang disiagakan. Di antaranya, cek poin Lasem, Cepu, Banaran, Selogiri (Wonogiri), dan Cemoro Sewu-Tawangmangu (Karanganyar).

Ia menyebut, Jawa Tengah sendiri telah bebas dari PMK sejak 1990. Adapun, episentrum PMK yang menyerang di 2022 berasal dari empat wilayah di Jatim yakni, Gresik, Mojokerto, Lamongan dan Sidoarjo.

Dikatakan, sudah ada temuan kasus PMK di Jateng. Meski begitu, dia memastikan telah menerapkan pola isolasi dan penyembuhan agar tidak menular.

Proses Penyembuhan

Kasi Kesehatan Hewan Disnakkeswan Jateng Yoyon Sunaryono menegaskan, Jateng telah menyiapkan berbagai skenario antisipasi PMK.

Selain melakukan pemantauan lalu lintas hewan, juga fokus terhadap penyehatan hewan terjangkit.

Hingga kini kasus PMK di Jateng terkendali. Semua hewan rata-rata dalam kondisi menuju penyembuhan.

Selain itu, dia juga telah melakukan edukasi di beberapa wilayah yang memunyai pasar hewan besar.

Di antaranya Pasar Wirosari Grobogan, Pasar Pon Blora,  Pasar Kaliyoso, Pasar Boyolali dan Pasar Klaten.

“Pada tempat-tempat tersebut kita juga bekerja sama dengan pemkab yang telah melakukan survei. Kalau ada tanda-tanda klinis, segera melangkah,” papar Yoyon.

Dia mengajak peternak dan pedagang lebih peka ketika menemukan kelainan pada sapi atau kambing mereka.

Ketika terjadi demam, menurunnya nafsu makan, disertai sariawan dan luka pada kuku segera melapor ke pihak terkait.

“Kalau menemukan tanda-tanda sapi atau kambing sakit segera lapor. Jangan menunggu (uji) serologis. Namun langsung diisolasi dan jangan didistribusi lagi,” tandasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.