in

Penurunan Muka Tanah dan Alih Fungsi Lahan di Semarang jadi Persoalan Serius

SEMARANG (jatengtoday.com) – Ketua DPRD Kota Semarang Kadarlusman menilai persoalan lingkungan yang dihadapi oleh masyarakat Kota Semarang cukup kompleks. Sebab, Semarang menjadi salah satu kota metropolitan yang memiliki aktivitas padat.

“Jumlah penduduk di Kota Semarang saat ini mencapai 1,7 juta jiwa lebih pada malam hari. Pada siang hari bisa bertambah mencapai 2,5 juta jiwa. Tentu, hal itu diikuti munculnya banyak persoalan lingkungan,” kata Pilus, sapaan akrabnya, belum lama ini.

Permasalahan lingkungan tersebut akan menjadi masalah serius apabila tidak dilakukan penanganan sebagai langkah antisipasi. Mulai dari permasalahan sampah, limbah, air, hingga permukiman. “Perlu kerjasama berbagai pihak untuk menemukan solusi yang komprehensif,” katanya.

Banyaknya jumlah penduduk tentu saja akan diikuti berbagai persoalan. Misalnya kebutuhan tempat tinggal dan pekerjaan. “Aktivitas sehari-harinya menimbulkan limbah dan sampah. Bila tidak dikelola dengan baik, tentu ini menjadi ancaman serius,” katanya.

Pihaknya akan terus melakukan komitmen bersama Pemkot Semarang agar persoalan lingkungan yang terjadi bisa diatasi dengan baik. “Penataan tata ruang dan wilayah misalnya, kami mendorong pemkot agar menerapkan aturan secara tegas. Terutama dalam menjaga daerah hijau. Menjaga ruang terbuka hijau (RTH), dan seterusnya. Tujuannya untuk menjaga lingkungan bersama-sama,” katanya.

Bagaimanapun kelestarian lingkungan harus terjaga agar bisa dinikmati oleh generasi selanjutnya. “Kami telah mendorong Pemkot Semarang mengalokasikan anggaran pembangunan embung, waduk, dan daerah resapan air. Ini menjadi daya dukung agar lingkungan terjaga,” katanya.

Menurut dia, pembangunan embung dan waduk akan memiliki manfaat besar untuk mengatasi banjir di Kota Semarang. Hingga sekarang ini saja, lanjut Pilus, upaya mengatasi banjir di Kota Semarang cukup menunjukkan hasil signifikan.

“Kawasan yang dulunya langganan banjir, saat ini telah berkurang. Tentu ini menjadi komitmen bersama agar kota ini semakin aman dan nyaman,” katanya.

Pakar lingkungan Undip, Prof Dr Sudharto P Hadi mengatakan daya dukung lingkungan diukur dari dua aspek yakni tanah dan air. Persoalan mengenai tanah yang dihadapi Kota Semarang di antaranya land subsidence atau penurunan muka tanah, dan alih fungsi lahan yang tidak sesuai dengan ketentuan.

“Penurunan muka tanah di Semarang bagian utara rata-rata 2 hingga 12 centimeter per-tahun. Ini menjadi persoalan serius,” ungkapnya.

Sedangkan untuk persoalan tentang air, pertama; air terlalu banyak saat musim hujan, terlalu sedikit saat musim kemarau, dan air kotor yang tercemar limbah. Maka dari itu, pihaknya meminta Pemkot Semarang konsisten menegakkan aturan sebagaimana dituangkan dalam Perda Nomor 14 Tahun 2011 tentang Tata Ruang. “Persoalan banjir, memang sudah bisa diatasi meski belum sepenuhnya tertangani semua,” katanya. (*)

 

editor : ricky fitriyanto