in

Pendeta Tjahjadi Ungkap Rahasia Gus Dur saat jadi Presiden

SEMARANG (jatengtoday.com) – Kisah hidup Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur masih saja menarik untuk dibicarakan. Termasuk mengenai masa kepemimpinannya menjadi Presiden RI yang tak lepas dari kontroversi.

Pendeta (Pdt) Tjahjadi Nugroho, sahabat karib Gus Dur semasa hidup, mengungkap hal-hal yang belum banyak diketahui publik. Salah satunya terkait hubungannya dengan Megawati Soekarnoputri yang menjadi wakil Gus Dur.

“Setelah terpilih jadi presiden, Gus Dur ingin wakilnya itu Bu Mega. Tapi Bu Mega malah menghindar dari Gus Dur,” cerita Pdt Tjahjadi saat menjadi pembicara di Haul Gus Dur ke-10 yang diselenggarakan PMII Rayon Abdurrahman Wahid di kampus UIN Walisongo Semarang, Selasa (21/1/2020).

Jauh hari sebelum masa itu, katanya, Gus Dur dan Megawati pernah berziarah ke makam Presiden RI ke-1, Soekarno. Keduanya berikrar untuk menyelamatkan Indonesia mengingat kondisi bangsa yang sedang genting.

Namun, majunya Gus Dur jadi presiden bukan sebatas karena ikrar tersebut ataupun berkat dorongan Amien Rais. Melainkan alasan kebangsaan, bahwa Gus Dur tak ingin Indonesia terpecah belah.

Singkat cerita, saat Pilpres tahun 1999 yang diselenggarakan oleh MPR, Gus Dur menang tipis dari Megawati. Calon terpilih ditetapkan berdasarkan perolehan suara terbanyak dari anggota Majelis.

Baca juga: Khoirul Anwar: Toleransi Harus Dihadirkan dalam Keseharian, Tak Cukup Sebatas Simbol

Ketika itu ada dua tahap pemilihan, pertama pemilihan presiden, kedua pemilihan wakil presiden. Setelah terpilih itulah Gus Dur mengungkapkan keinginannya supaya yang jadi wakil presiden Megawati.

“Ujung-ujungnya yang bingung kami ini (sahabat Gus Dur). Makanya kami berusaha menghubungi Bu Mega. Yang ngangkat telepon Mas Taufik (suami Mega),” ujar Pdt Tjahjadi.

Meskipun begitu, ia terus mencoba hingga akhirnya Taufik mempersilakan untuk berbicara dengan Megawati. Namun kali ini bukan Pdt Tjahjadi yang ngomong, tetapi Binky Irawan, pemuka Konghucu sekaligus sahabat Gus Dur yang dianggap sesepuh banyak orang.

Baca juga: Puan Hayati Jateng: Aliran Kepercayaan Masih Mendapat Diskriminasi di Berbagai Aspek

Akhirnya, Gus Dur dan Megawati menjadi Presiden dan Wakil Presiden periode Oktober 1999 hingga 23 Juli 2001. Gus Dur dilengserkan dan dilanjutkan oleh Megawati dan Hamzah Haz untuk periode Juli 2001 hingga Oktober 2004.

“Ini cerita nggak pernah ditulis di sejarah, karena nggak ada yang tahu,” tandas Pdt Tjahjadi. (*)

 

editor : ricky fitriyanto