in

Owner Klinik Kecantikan di Semarang Bantah Cemarkan Nama Baik Karyawannya

Si owner tidak pernah menuduh apalagi bermaksud mencemarkan nama baik bawahannya sendiri.

Agra Iskandar selaku kuasa hukum owner klinik kecantikan menunjukkan foto dokumen yang memperkuat bantahan kliennya. (baihaqi/jatengtoday.com)
Agra Iskandar selaku kuasa hukum owner klinik kecantikan menunjukkan foto dokumen yang memperkuat bantahan kliennya. (baihaqi/jatengtoday.com)

SEMARANG (jatengtoday.com) — Owner sebuah klinik kecantikan di Kelud, Kota Semarang menanggapi pelaporan karyawannya di kepolisian atas dugaan pencemaran nama baik.

Pelaporan tersebut buntut dari kekesalan karyawan berinisial ND yang mengklaim telah dituduh bosnya mencuri kalung pelanggan klinik kecantikan

Agra Iskandar selaku kuasa hukum owner klinik menegaskan, kliennya tidak pernah menuduh apalagi bermaksud mencemarkan nama baik bawahannya sendiri.

“Tidak ada yang menuduh, itu tidak benar,” jelas Arga, Kamis (27/6/2024).

Yang dilakukan kliennya, kata Arga, hanya berupaya mencari tahu penyebab hilangnya kalung pelanggan untuk menentukan siapa yang seharusnya bertanggung jawab atas kehilangan itu.

Arga bercerita, kasus ini berawal saat ada pelanggan klinik yang mencopot kalung dan lupa membawa pulang. Kalung tersebut kemudian dititipkan ke karyawan berinisial ND.

Selanjutnya, karyawan tersebut menaruh kalung ke dalam laci. “Dia (ND) naruh kalung di laci, itu buktinya ada karena terekam CCTV,” paparnya.

Menurut versi ND, kalung kemudian dibawa oleh seorang dokter klinik. Namun, saat dikonfrontasi si dokter membantahnya.

Menyikapi hal itu, owner klinik pun memanggil semua karyawan, termasuk ND, untuk mengetahui kronologi detail hilangnya kalung.

“Kan sebagai owner wajar kalau bertanya itu ke karyawan, jadi bukan nuduh, hanya tanya,” tegas Arga.

Waktu berlalu dan tak ada yang mengaku siapa yang membawa kalung tersebut. Kemudian, owner membuat keputusan bahwa ganti rugi dibebankan kepada owner, karyawan ND, dan dokter.

Pasca itulah karyawan ND justru melayangkan laporan ke polisi. (*) 

editor : tri wuryono

Baihaqi Annizar