in

Pegawai Klinik Kecantikan Harap Polisi Memproses Dugaan Pidana Bosnya

Polisi sudah memediasi pelapor dan terlapor, tetapi tidak terjadi kesepakatan yang saling menguntungkan.

Kuasa hukum Nadira dari Law Firm D.E.A & Co menjelaskan kronologi pelaporan dugaan fitnah bos klinik kecantikan. (baihaqi/jatengtoday.com)
Kuasa hukum Nadira dari Law Firm D.E.A & Co menjelaskan kronologi pelaporan dugaan fitnah bos klinik kecantikan. (baihaqi/jatengtoday.com)

SEMARANG (jatengtoday.com) — Nadira Rahma, seorang pegawai klinik kecantikan di daerah Kelud, Semarang, berharap pihak kepolisian terus memproses laporannya terkait dugaan pemfitnahan.

Nadira melaporkan YR selaku bos atau owner klinik serta OL selaku dokter di klinik yang sama.

Pelaporan tersebut sebagai buntut kekesalan Nadira yang diduga dituduh mencuri sebuah kalung emas milik pelanggan klinik.

Kuasa hukum Nadira dari Law Firm D.E.A & Co, Walden Van Houten Sipahutar mengatakan, pihak kepolisian sudah memanggil bos, dokter, serta beberapa saksi dari klinik kecantikan tempatnya bekerja.

Bahkan pada akhir Mei 2024 sudah dilakukan mediasi, tetapi tidak terjadi kesepakatan antara Nadira dan kedua terlapor.

Terlapor mengklaim tak pernah menuduh Nadira mencuri. Sementara Nadira bersikukuh mengaku menjadi korban fitnah dan terus didesak mengembalikan kalung yang tidak ia curi.

Mediasi pertama buntu, polisi kembali mengagendakan mediasi pada Rabu (12/6/2024), tetapi kedua terlapor memilih mangkir.

“Kemarin sebenarnya jadwal mediasi lagi, tapi pihak sana (teradu) tidak mau datang,” ujar Walden, Kamis (13/6/2024).

Karena mediasi gagal, Walden berharap kepolisian terus memproses laporan dugaan fitnah dan pencemaran nama baik dengan sangkaan Pasal 310 ayat (1), Pasal 315, dan Pasal 318 KUHP.

Sementara itu, saat dikonfirmasi, kuasa hukum bos klinik kecantikan, Agra Iskandar mengakui kliennya dilaporkan karyawannya sendiri. Ia pun mengaku siap menghadapi proses hukum yang berjalan.

“Langkahnya dengan mengikuti semua prosedur hukum yang berlaku di Indonesia,” ujar Agra. (*)

editor : tri wuryono 

Baihaqi Annizar