in

Melawan Penyakit Misterius yang Tak Diketahui Penyebabnya, Para Dokter Lakukan Ini

SEMARANG (jatengtoday.com) – Penyakit kanker hingga sekarang ini masih menjadi momok menakutkan dan berbahaya bagi masyarakat. Selain dikenal mematikan, para dokter di dunia hingga sekarang belum bisa menemukan penyebab penyakit kanker.

Kanker menjadi penyakit yang sulit dikenali sejak dini. Hal itu mengakibatkan jumlah pengidap kanker di dunia setiap tahun terus mengalami peningkatan. Data World Health Organization (WHO) membuat orang tercengang. Sebab tercatat setiap tahun penderita kanker bertambah tujuh juta orang.

Dua pertiga diantaranya berada di negara-negara berkembang. Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki banyak kejadian kanker. Sehingga kanker menjadi masalah krusial di dunia kesehatan yang patut diwaspadai.

Setiap tahun terdapat 100 kasus baru per 100.000 penduduk. Artinya, dari 240 juta penduduk Indonesia, terdapat 240.000 pengidap kanker baru setiap tahunnya.

Sedangkan berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Jawa Tengah, persentase kanker di Jawa Tengah mencapai 2,1 per-mil dengan estimasi jumlah penderita 68.638 pasien.

“Kanker menjadi salah satu penyakit paling misterius. Sebab hingga sekarang belum diketahui penyebab pastinya,” kata Kabid Pelayanan Sosial YKI Pusat, Dr dr Sonar Panigoro, usai mengisi pelatihan perawatan Paliatif Pasien Kanker di RSUP Dr Kariadi Semarang, Minggu (6/5/2018).

Ia menyontohkan, Malaria sejauh ini telah diketahui penyebabnya. Diantaranya terdapat parasit dan ditularkan oleh nyamuk. “Malaria ini saja belum bisa diberantas di Indonesia. Bisa dibayangkan kanker ini tidak tahu apa penyebabnya, itu akan lebih sulit lagi. Maka angka kasus kanker masih sangat tinggi,” katanya.

Penyebab kanker, lanjut dia, 40 persen dihubungkan dengan gaya hidup. “Sedangkan 60 persen belum diketahui, diantara 60 persen itu ada 5 persen akibat keturunan,” katanya.

Sejauh ini, berdasarkan jenis kanker di dunia hanya ada 100 jenis kanker. “Di Indonesia, tertinggi adalah kanker payudara. Disusul kanker serviks, terutama pada perempuan. Sedangkan laki-laki paling tinggi adalah kanker paru-paru, kemudian disusul kanker usus besar,” imbuhnya.

Atas kondisi itu, Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Pusat bersama Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Kota Semarang bersinergi dengan PT Garuda Indonesia memerkenalkan program perawatan pasien kanker menggunakan sistem Paliatif.

Pelatihan Paliatif ini lebih bersifat edukatif kepada masyarakat, terutama keluarga pasien agar mampu melakukan perawatan sendiri di rumah, setelah pasien kanker tersebut dilakukan penanganan di rumah sakit. Perawatan Paliatif dapat meningkatkan kualitas hidup pasien.

Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia (YKI), Prof Dr dr Aru Sudoyo mengatakan pelatihan perawatan Paliatif pasien kanker penting untuk terus dilakukan bagi tenaga kesehatan dan tenaga pelaku rawat, termasuk masyarakat. “Terutama bagi keluarga pasien yang secara langsung berhadapan dengan penyakit tersebut,” katanya.

Dikatakanya, hampir sebagian penyakit kanker ditemukan pada stadium lanjut. Sehingga angka kesembuhan dan angka harapan hidup pasien kanker belum seperti diharapkan. “Meski tata laksana kanker telah berkembang pesat. Pasien dengan kondisi tersebut mengalami penderitaan yang memerlukan pendekatan secara terintegrasi,” katanya.

Penanggung Jawab Program Paliatif Dr Siti Annisa Nuhonni SpKFR(K), mengatakan proses yang terjadi tidak sekadar mengobati saja. Sebab, dampak pasien yang menderita kanker meliputi lahir-batin serta lingkungan. “Maka ini tidak bisa dilakukan penanganannya dilakukan satu institusi kesehatan saja. Tetapi juga mulai dari lingkup keluarga. Maka kami memerkenalkan program merawat pasien kanker di rumah. Terutama pasien yang telah memasuki fase akhir,” katanya.

Lebih lanjut, kata Annisa, di era pelayanan kesehatan dengan dibiayai BPJS maupun JKN, pasien bisa berlama-lama di rumah sakit karena merasa tidak perlu membayar. “Biasanya alasannya nanti ‘saya di rumah tidak bisa merawatnya’. Kami pada prinsipnya ingin mencerdaskan masyarakat, mengenai bagaimana cara merawat pasien kanker di rumah,” katanya.

Sedikitnya ada 10 kota yang akan dilakukan pelatihan Paliatif. Saat ini telah terlaksana di empat kota, yakni Kupang, Palembang, Makassar, dan Bandung. Selanjutnya adalah Semarang, Jakarta, Samarinda, Yogyakarta, Padang dan Lampung. “Kami menggandeng sejumlah rumah sakit. Sehingga bisa melakukan pendampingan pasien sejak dalam perawatan di rumah sakit. Penanganan perawatan pasien misalnya mengatasi bau akibat luka operasi, nyeri, dan lain-lain. Kami juga akan melibatkan kader PKK untuk dilatih mengenai perawatan Paliatif ini,” katanya.

Ketua YKI dr Eko Adhi Pangarsa menambahkan, di Semaranag ada sebanyak 49 peserta pelatihan dari RSUP dr Kariadi, masing-masing berasal dari Cancer Information Support Center (CISC), RS Elisabeth, RS Tugurejo, RS Tlogorejo, RSUD Rembang, RS KSH Pati, dan RSU Parkesit Kalimantan. Acara dilaksanakan 6-8 Mei 2018 di Gedung Kasuari RSUP Dr Kariadi Semarang.

“Secara insidensi atau persentase nasional, Jawa Tengah menempati rangking kedua. Tapi kalau melihat jumlah mutlaknya kita paling tinggi, karena Jateng memiliki penduduk sangat banyak,” katanya.

Sementara itu, perwakilan Corporate Social Responsibility (CSR) PT Garuda Indonesia, Ambar Dwi Pratiwi, mengatakan program seperti ini menjadi bentuk pengabdian masyarakat. “Kami juga memiliki kewajiban dalam beberapa sektor, dan sudah ditetapkan oleh Kementerian BUMN, yang harus disentuh. Diantaranya sektor kesehatan, pendidikan, lingkungan hidup, bencana alam, kemiskinan, dan lain-lain. Kami memang telah sinergi dengan YKI dalam bidang kesehatan ini sejak 2013. Diantaranya mengenai program deteksi dini kanker serviks dan HIV-AIDS,” katanya. (abdul mughis)

editor : ricky fitriyanto