in ,

Kwarnas Pramuka Sesalkan Yel-yel Berbau SARA di Yogyakarta

JAKARTA (jatengtoday.com) – Kwartir Nasional Gerakan Pramuka menyampaikan kekecewaan terhadap terjadinya kasus yang disebut-sebut tepuk pramuka Islam “yes, kafir no” di Yogyakarta. Gerakan Pramuka selalu berusaha untuk menjadi wadah pendidikan bagi kaum muda agar menjadi manusia Pancasilais.
“Gerakan Pramuka adalah gerakan pendidikan kepanduan yang inklusif terbuka bagi siapa saja tanpa memandang perbedaan latar belakang,” ujar Waka Kwarnas/Ketua Komisi Kehumasan dan Informatika Kak Berthold DH. Sinaulan dalam keterangan tertulis, Rabu (15/1/2020).
Untuk kasus tersebut, menurut Kak Berthold, sedang diproses oleh Dewan Kehormatan di tingkat cabang dan daerah, dan Kwarnas mengharapkan hasilnya menjadi pelajaran bagi semua, bahwa pendidikan kepramukaan tidak membenarkan segala bentuk intoleransi.
“Gerakan Pramuka selalu berusaha untuk menjadi wadah pendidikan bagi kaum muda agar menjadi manusia Pancasilais yang berguna bagi diri, keluarga, bangsa, dan negara, yang manpu mempertahankan NKRI dengan semangat ke-bhinneka tunggal ika-an, berbeda-beda tapi satu tujuan,” lanjut Kak Berthold.
Gerakan Pramuka akan terus mengevaluasi dan mengembangkan kurikulum pendidikan bagi para Pembina dan Pelatih Pembina Pramuka, agar mereka dapat membina para peserta didiknya sesuai dengan aturan dan arah kebijakan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Selanjutnya, Kwarnas juga berterima kasih kepada jajaran Kwarda DIY dan Kwarcab Kota Yogya termasuk Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X selaku Ketua Majelis Pembimbing Daerah Gerakan Pramuka dan Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti selaku Ketua Majelis Pembimbing Cabang Kota Yogyakarta yang telah memberikan arahan, masukan dan bahkan turun langsung memastikan peristiwa semacam itu tak terulang lagi.
Sebelumnya, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X juga menyesalkan adanya oknum pembina Pramuka yang mengajarkan yel-yel menyinggung suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) kepada para siswa peserta pramuka di salah satu SDN di Kota Yogyakarta.
“Saya sangat menyesal di pramuka terjadi seperti itu,” kata Sultan saat ditemui seusai menghadiri dialog kebangsaan dengan tema “Merawat Persatuan, Menghargai Perbedaan” di Auditorium Prof. KH Kahar Mudzakkir, Universitas Islam Indonesia (UII), Sleman, Selasa (14/1/2020).
Salah seorang pembina pramuka mengajarkan yel-yel berbau SARA kepada para siswa peserta kegiatan pramuka di SDN Timuran, Kota Yogyakarta pada Jumat (10/1). Yel-yel berbunyi “Islam Yes Kafir No” yang disisipkan dalam tepuk pramuka itu diketahui oleh seorang wali murid.
Tidak Tepat
Menurut Sultan, yel-yel berbau SARA semacam itu bukan pada tempatnya ada dalam kegiatan pramuka serta tidak perlu diajarkan kepada siswa. “Itu tidak betul itu. Bukan tempatnya di situ dan tidak perlu mengatakan seperti itu. Di Indonesia tidak ada kafir,” kata Raja Keraton Yogyakarta ini.
Ketua Kwartir Cabang Kota Yogyakarta, Heroe Poerwadi membenarkan bahwa pada Jumat (10/1) SD Negeri Timuran Yogyakarta memang menjadi tempat praktik peserta kursus mahir lanjutan yang dibuka secara umum oleh Kwartir Cabang Kota Yogyakarta.
Meski demikian, Heroe mengaku belum mengetahui secara mendetail tentang motif pembina itu mengajarkan yel bernuansa SARA. Pihaknya segera memanggil pembina itu untuk dimintai keterangan lebih lanjut tentang tindakannya saat itu.
“Secepatnya akan kami panggil di Kantor Kwartir Cabang Kota Yogyakarta. Kami akan meluruskan kembali persoalan yang sebenarnya terjadi seperti apa. Lalu, bagaimana seharusnya dan apa konsekuensinya,” kata Heroe yang juga Wakil Wali Kota Yogyakarta ini. (*/ant)
editor : tri wuryono

Tri Wuryono