in

Kemenkes Libatkan Perguruan Tinggi Tekan Risiko PTM

SOLO (jatengtoday.com) – Kementerian Kesehatan mengingatkan risiko penyakit tidak menular (PTM) yang menyasar pada kelompok usia produktif. Melalui program kampus sehat, risiko tersebut diharapkan bisa ditekan.
Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Anung Sugihantono mengatakan, saat ini terjadi pergeseran pola penyakit, di mana penyakit tidak menular (PTM) meningkat secara signifikan dan menjadi penyebab utama kematian di Indonesia.
“Sedangkan penyakit menular belum sepenuhnya teratasi dan masih menjadi momok yang menakutkan seperti HIV/AIDS, tuberkulosis, malaria, dan DBD,” kata Anung di sela peluncuran Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta sebagai kampus sehat, Jumat (29/11/2019).
Kemenkes mencatat jumlah kerugian ekonomi akibat kematian dini dan sakit kurang lebih mencapai 1/3 GDP Nasional, di mana 70 persennya disebabkan oleh PTM.
Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan bahwa PTM dan faktor risikonya sebagian besar terjadi pada kelompok usia produktif. Untuk mempercepat pengendalian PTM melalui sinergi upaya promotif dan preventif hidup sehat, maka pemerintah mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2017 tentang Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas).
“Implementasi Germas menjadi tanggung jawab semua pihak, termasuk perguruan tinggi,” lanjut Anung.
Terkait UNS sebagai kampus sehat, menurut dia hal itu seiring dengan upaya perubahan yang dilakukan oleh pihak kampus.
“Termasuk bagaimana mengubah kantin menjadi kantin sehat, banyak menyediakan makanan rebusan, sayur dan buah, serta tradisi penggunaan ‘tumbler’ di kalangan dosen maupun mahasiswa,” ujarnya.
Dia berharap kegiatan tersebut bukan hanya sesaat tetapi juga terus ditingkatkan dengan upaya bertahap yang dilakukan oleh pihak kampus.
“Termasuk tempat merokok dibatasi, jadi yang ingin merokok tidak bisa dilakukan di semua tempat, setelah itu baru kemudian dilarang. Kami juga akan melakukan pemantauan terus, enam bulan lagi kami akan ke sini,” katanya.
Ia mengatakan dilibatkannya kampus dalam penerapan gerakan hidup sehat karena saat ini Indonesia tengah menghadapi transisi epidemiologi sehingga mengalami beban ganda penyakit. (ant)
editor : tri wuryono