in

Jaga Kerukunan, MAJT Ingin Bentuk Paguyuban Pengelola Rumah Ibadah Lintas Agama

SEMARANG (jatengtoday.com) – Ketua Dewan Pelaksana Pengelola (DPP) Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Noor Achmad, mengusulkan untuk membentuk paguyuban pengelola rumah ibadah lintas agama. Hal itu penting dilakukan untuk menjaga kerukunan.

“Saya punya gagasan adanya paguyuban pengelola rumah ibadah lintas agama. Jika para tokoh lintas agama yang hadir di sini setuju, nanti bisa kita wujudkan setelah lebaran,” ujarnya saat dialog dengan tokoh lintas agama di Aula MAJT.

Menurutnya, upaya untuk menjalin kerukunan antar umat beragama memang senantiasa dilakukan MAJT. Menyambut bulan Ramadan 1440 H, pihaknya juga bekerja sama dengan Gereja IFGF Semarang, menggelar bakti sosial bazar paket sembako murah kepada masyarakat.

“Inilah salah satu cara kita merekatkan hubungan harmonis komunikasi lintas agama,” ungkap Mantan Rektor Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang tersebut dalam keterangan tertulisnya, Minggu (26/5/2019).

Ketua Perkumpulan Boen Hian Tong, Harjanto Halim, mengapresiasi usulan itu. Dirinya mengaku sangat mendukung. “Prinsip saya setuju. Harapan kami tidak hanya berhenti di takmir (Pengelola) rumah ibadah saja. Namun bisa diikuti umatnya masing-masing,” ujarnya.

Hal senada juga diungkapkan Kepala Campus Ministry Unika Soegijapranata Semarang, Romo Aloysius Budi Purnomo. Menurutnya, gagasan pengurus MAJT untuk membentuk paguyuban baru merupakan langkah positif. “Ini menunjukkan sikap moderat. Bagus, perlu kita dukung,” ucapnya.

Romo Budi yang pernah mengemban tugas sebagai Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang (Kom HAK KAS) itu menambahkan terkait kemiripan tradisi Islam dan Katolik. Meskipun hal itu juga tidak dimaksudkan untuk mensinkretiskan keduanya.

Menurut dia, puasa sebenarnya menjadi bagian dari ungkapan iman semua agama. Dalam agama Katolik sendiri, puasa dilaksanakan 40 hari, mulai Rabu Abu hingga Sabtu Suci, sesudah wafat Isa Almasih. Masa puasa disebut Masa Prapaskah. Ungkapan iman ini juga diikuti dengan perwujudan iman melalui Aksi Puasa Pembangunan (APP).

Dikemukakan lebih lanjut, hakikat puasa dalam tradisi Islam juga ditempatkan dalam konteks hidup rukun, toleran dan harmonis. “Ini bagus sekali, sangat relevan juga dengan ajaran agama kami,” tegas Romo Budi.

Dalam kesempatan itu, hadir pula perwakilan tokoh lintas agama Semarang dan Jawa Tengah. Seperti Ketua Penasehat Asosiasi Pendeta Indonesia (API) Jateng Ps. Dr. Budi P. Hidayat, Utusan Vihara Tanah Putih, Pandita Wahyudi, Wakil Ketua Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin) Jateng, Js. Andi Tjiok, dan masih banyak yang lainnya. (*)

editor : ricky fitriyanto