in

Harga Berbeda, Gas Melon Jateng Dilarikan ke Jabar

Wakil Ketua DPD Gerindra Jateng mendesak Gubernur segera merevisi HET gas melon.

Ilustrasi. Pekerja mendistribusikan elpiji untuk masyarakat. ANTARA/Pertamina

SEMARANG (jatengtoday.com) – Harga Eceran Tertinggi (HET) gas melon di Jateng dan Jabar berbeda. Penetapan HET elpiji bersubsidi ini merupakan kewenangan kepala daerah.

Di Jabar, harga gas melon naik mulai 1 Maret 2022 kemarin. Dari Rp 16.000 menjadi Rp 19.000. Sementara di Jateng tidak ada perubahan.

Akibatnya, Gas melon untuk masyarakat miskin tersebut merembes dari kabupaten perbatasan di Jateng menuju Jabar.

Anggota Fraksi Partai Gerindra di DPRD Jateng, Yudi Indras Wiendarto mengatakan pihaknya mendapatkan laporan bocornya elpiji bersubsidi tersebut dalam beberapa hari terakhir.

Penyebabnya adalah adanya perbedaan harga eceran tertinggi (HET), termasuk di tingkat konsumen atau masyarakat pengguna.

“Jatah subsidi elpiji yang sebenarnya untuk masyarakat Jateng, bocor ke Jabar. Karena terjadi perbedaan harga itu,” ujar Yudi yang merupakan anggota Komisi E DPRD Jateng, Minggu (6/2/2022).

Dikawatirkan Terjadi Kelangkaan

Perbedaan HET tersebut, lanjutnya, tak hanya akan merusak pasar. Ia khawatir akan terjadi kelangkaan elpiji 3 kg di Jateng, terutama di wilayah perbatasan dengan Jabar.

Sebagaimana diberitakan, sejumlah wilayah Jabar yang menerapkan HET baru tersebut seperti Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan.

Untuk itu, Yudi Indras yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua DPD Gerindra Jateng mendesak Gubernur segera merevisi HET gas melon.

“Jika tak segera dilakukan revisi HET maka pasar akan rusak dan bisa terjadi kelangkaan elpiji 3 kg di wilayah Jateng,” ujarnya.

Apalagi, saat ini elpiji nonsubsidi juga terjadi kenaikan harga. Ia khawatir, akan terjadi migrasi penggunaan dari elpiji nonsubsidi ke bersubsidi. Padahal elpiji bersubsidi diperuntukkan bagi masyarakat ekonomi tidak mampu.

Yudi Indras juga minta stok elpiji tetap tersedia di tingkat konsumen. Apalagi saat ini menjelang bulan puasa dan lebaran. Ia khawatir ada pihak-pihak yang memanfaatkan momen ini untuk menimbun dan mendapatkan keuntungan ekonomi. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.