in

Cuci Tangan Pakai Sabun, Sederhana Tapi Dampaknya Luar Biasa

KENDAL (jatengtoday.com) – Cuci tangan memang kerapkali digembar-gemborkan di masyarakat. Tapi ternyata mencuci tangan pakai sabun masih belum menjadi kebiasaan. Tak jarang, mereka hanya membasuh tangan dengan air.

Ketua Tim Penggerak PKK Jawa Tengah Atikoh Ganjar Pranowo melalui Wakil Ketua IV Tjondrorini mengungkapkan, berdasarkan data UNICEF pada 2014, sebanyak 75,5 persen masyarakat Indonesia tidak terbiasa mencuci tangan karena menganggap tangan mereka bersih.

Kalau pun mereka mencuci tangan, tidak jarang yang dilakukan hanya membilas tangan dengan air tanpa sabun, atau hanya cuci tangan di kobokan/ baskom kecil.
Padahal, imbuhnya, membilas dengan air saja tidak cukup untuk mematikan kuman di tangan. Sehingga, diare yang menjadi penyebab kematian terbanyak pada anak-anak dapat mengancam.

Selain itu, masyarakat juga berisiko terkena cacingan. Dan saat ini 90 persen anak Indonesia diketahui menderita cacingan. Penyakit tersebut dapat mempengaruhi kecerdasan dan tumbuh kembang anak karena cacing dalam tubuh akan menyerap nutrisi dan menggerogoti tubuh anak.

“Bayangkan kalau cacing pating kruel di perut, beranak pinak. Anak jadi letih, lelah, lesu, letoy, tidak bisa belajar, tidak semangat lagi,” ujarnya, saat Peringatan Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia 2019 Tingkat Provinsi Jawa Tengah, di SDN 1 Tambahrejo, Kecamatan Pageruyung, Kabupaten Kendal, Selasa (15/10/2019).

Namun, jelas Tjondrorini, kuman atau mikroba bisa mati jika tangan dicuci menggunakan sabun, dengan cara yang benar. Menurut data WHO (2014), mencuci tangan dengan sabun dapat mengurangi 40 persen risiko diare, dan 20 persen risiko infeksi saluran pernapasan akut, termasuk pneumonia.

Menurut badan kesehatan dunia (WHO), ada beberapa langkah yang mesti dilakukan saat cuci tangan. Pertama, basuh telapak tangan sampai siku menggunakan air bersih yang mengalir, ambil sabun, usahakan sabun khusus cuci tangan, taruh di telapak tangan dan ratakan. Letakkan telapak tangan kanan di atas punggung tangan kiri, gosok hingga ke sela-sela jari secara bergantian.

Gosok kedua telapak tangan dan sela-sela jari. Jari tangan kanan digosokkan pada telapak tangan kiri, dan sebaliknya dengan posisi saling mengunci. Ibu jari tangan kiri di gosokkan berputar pada genggaman tangan kanan dan ulangi sebaliknya. Gosok berputar ujung jari tangan kanan di telapak tangan kiri, dan ulangi sebaliknya.

Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Winarno menambahkan, butuh waktu ekstra untuk penyadaran CTPS di masyarakat. Karenanya, CTPS mesti terus dilakukan, khususnya bagi anak usia dini.

“Perilaku dan kebiasaan CTPS ini sederhana. Tapi dampaknya luar biasa karena meningkatkan derajat kesehatan masyarakat,” tuturnya. (kom)

editor : ricky fitriyanto

Ajie MH.