in

Baru Dibangun, Tembok SD di Gunungpati Ambruk dan Tewaskan Siswa. Salah Siapa?

SEMARANG (jatengtoday.com) – Ambruknya tembok papan nama SDN Pakintelan 01, Gunungpati yang menewaskan seorang siswa menimbulkan luka yang mendalam. Khususnya bagi keluarga korban dan sekolah.

Banyak pihak yang mempertanyakan ambruknya tembok setinggi 2,5 meter dan lebar sekitar 7 meter itu. Pasalnya, tembok tersebut baru dibangun setahun yang lalu, pada 2018.

Guru SDN Pakintelan 01, Setyorini, mengungkapkan, peristiwa itu terjadi Selasa (24/9/2019) sekitar pukul 12.30. Saat para siswa sedang istirahat dan diarahkan untuk salat di musala lantai atas.

Namun, ada beberapa siswa yang keluar untuk membeli makan dan jajan. Diantaranya adalah Mohamad Rehan Ditya Pratama (10) dan Ridlo Adytia Saputra (10). Masing-masing siswa kelas V.

Keduanya adalah korban yang sama-sama tertimpa reruntuhan bangunan.

“Kemungkinan kan lagi nunggu beli jajan sambil senderan di bawah tembok. Tapi tiba-tiba bangunan itu langsung ambruk,” ungkap Setyorini saat ditemui di sekolah, Rabu (25/9/2019).

Pasca kejadian, kedua korban langsung dilarikan ke RSUD Ungaran. Namun, Rehan meninggal saat dalam perjalanan. Sementara Ridlo kondisinya kritis dan saat ini sudah dipindahkan ke RSUD K.R.M.T Wongsonegoro Semarang guna perawatan lebih lanjut.

Guru lain di SDN Pakintelan 01, Daryono mengaku belum tahu penyebab pasti robohnya tembok tersebut. Tapi dia membenarkan informasi bahwa sebenarnya itu merupakan bangunan baru yang dibangun pada 2018 oleh Dinas Pendidikan Kota Semarang.

Pihaknya juga enggan memberi pernyataan soal tudingan masyarakat yang menyebut ambruknya tembok disebabkan kesalahan konstruksinya.

“Itu yang mbangun dari Dinas. Kita terima paket jadi. Semua dari mulai tukang hingga konsepnya kan semua diurusi pemenang tender. Jadi kami tidak tahu-menahu,” jelas Daryono.

Yang jelas, pihak sekolah berencana merobohkan bagian tembok lain yang pembangunannya satu paket dengan yang telah ambruk.

“Tapi kalau kapan waktu pastinya, saya belum tahu. Karena kan masih harus koordinasi dulu dengan pihak-pihak yang berwenang, nggak boleh asal ngerobohin,” tandas Daryono. (*)

editor : ricky fitriyanto

Baihaqi Annizar