in

Anggaran Tersendat, TI Jateng Kesulitan Lanjutkan Pembangunan Gedung Olahraga

Ketua Pengprov TI Jateng, Alex Harijanto menunjukkan lokasi pembangunan GOR. (foto: jatengtoday.com)

SEMARANG (jatengtoday.com) – Rencana Pengprov Taekwondo Indonesia (TI) Jawa Tengah untuk melanjutkan pembangunan Gedung Olahraga (GOR) di Cangkiran, Mijen, Kota Semarang terancam berantakan. Tersendatnya kucuran anggaran menjadi penyebabnya.

Setelah membangun dojang (sasana latihan), TI Jateng berencana melanjutkan pembangunan GOR untuk umum yang bisa dimanfaatkan cabang olahraga lain sebagai fasilitas latihan atlet.

GOR yang terletak tak jauh dari lokasi ”Dojang Subroto” milik TI Jateng tersebut baru tahap pondasi cakar ayam, dan jalan beton selebar 4 meter dengan jarak sekitar 100 meter. Pembangunan terpaksa berhenti karena kekurangan dana.

Ketua Pengprov TI Jateng, Alex Harijanto mengatakan, dana yang sedianya dialokasikan untuk pembangunan GOR dialihkan untuk babak kualifikasi menuju PON XXI Aceh-Sumut 2024.

Padahal dana talangan tersebut merupakan hasil gotong royong pengprov bersama pelatih kepala taekwondo se-Jateng. Dana itu, kata Alex, dimanfaatkan untuk pelatda dan try out ke Korea yang mencapai angka Rp 900 juta.

Alex sangat berharap, KONI Jateng bisa mengganti dana tersebut yang telah dikeluarkan sesuai pengajuan serta RAB yang telah diberikannya.

“Kami diminta membuat RAB untuk diajukan ke KONI Jateng. Tapi hanya dibantu dana yang jumlahnya jauh dari kebutuhan yang kami ajukan. Kami berharap dana talangan ini bisa dikembalikan KONI Jateng sepenuhnya,” kata Alex di Semarang, Rabu (9/10/2024).

Pada PON XXI 2024, cabang taekwondo cukup sukses melampaui target KONI dan menjadi runner-up di bawah tim taekwondo Jabar dengan perolehan 4 emas, 3 perak, dan 5 perunggu. Taekwondo masuk dalam olahraga unggulan pertama KONI yang ditarget tiga medali emas.

Menurut Alex, GOR yang dibangun di atas lahan 9 hektare itu nantinya juga bisa dimanfaatkan cabor lain. Tak hanya tertundanya pembangunan GOR, tradisi pemberian tali asih untuk atlet peraih medali juga terganggu.

“Dana Rp 900 juta itu kami butuhkan untuk membangun gedung olahraga dan tali asih atlet sebagai tradisi turun temurun di Pengprov TI. Sebelumnya untuk persiapan PON XX di Papua kami juga sudah tombok,” tutup Alex Harijanto. (*)